Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Rabu, 18 Februari 2015

A LETTER FOR DAD AND MOM



A LETTER FOR DAD AND MOM

Mentari pagi bersinar begitu cerahnya. Burung bernyanyi di tangkai tangkai pohon yang rindang. Angin menyerbak gorden kamar berwarna biru, membuat cahaya masuk menusuk mataku yang masih sulit kubuka. Matahari mulai terbit namun aku masih berada di alam mimpiku. Malas sekali aku berdiri. Terasa berat mata ini kubuka. Aku tahu ini pasti akibat aku tidur terlalu larut malam. Entah, sepertinya baru beberapa jam yang lalu aku menutup mataku dan sekarang aku harus memulai aktivitas lagi. Ku ambil handukku dibelakang pintu kamar dan berjalan gontai menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, masih saja aku merasa malas. Apalagi dengan keadaan rumah yang seperti neraka. Tak ada kedamaian sama sekali disini. Suara benda-benda yang sengaja dijatuhkan selalu aku dengar setiap harinya. Aku tahu disana ada ayah dan ibuku, dalang dibalik semua kerusuhan ini. “hhfftt” kutarik panjang nafasku. Jam sudah menunjukkan pukul 06.45. tak sempat aku sarapan. Ku ambil sepeda di garansi, dan ku kayuh cepat menuju sekolah.
Namaku Agni Larissa. Panggil saja Agni. Aku bersekolah di Nuraga International School. Aku duduk di kelas 1 SMA. Di sekolah, aku cukup terkenal. Terkenal bukan karena aku dari keluarga kaya apalagi karena prestasiku. Aku adalah perempuan tomboy dengan segudang masalah yang ku miliki di sekolah. “cewek tomboy” begitu teman-teman memanggilku. Aku tak peduli apa yang mereka katakan diluar sana. Inilah diriku dengan semua kekuranganku. Namun sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini. Mungkin ini semua berawal dari kedua orang tuaku. Aku tak pernah merasakan kasih sayang yang utuh dari orang tuaku. Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka. Ayah sibuk dengan perusahaannya dan ibu dengan butiknya. Mereka pulang ketika aku sudah terlelap. Dan mereka berangkat sebelum aku terbangun. Begitu setiap harinya.
Brukkk... “hey kalau jalan hati-hati”. Marahku pada seseorang yang menabrakku di koridor sekolah. “i.. i.. yaa... maaf. Aku tak melihatmu”. Kata seseorang yang sepertinya merasa sangat bersalah. Aku tak mempedulikan perkataanya. Aku berlari menuju kelasku karena aku sadar kalau aku sudah sangat terlambat. Ah biarkan saja aku terlambat. Sudah biasa. Pasti aku tak diperbolehkan masuk sampai bel istirahat berbunyi. Lebih baik aku ke kantin saja. Rasanya lapar sekali perutku ini.
Beberapa jam berlalu dan bel istirahat sudah berbunyi. Selesai makan, aku bergegas menuju ke kelas. Sampai didepan pintu kelas, aku terkejut melihat seorang laki-laki tampan yang duduk di tempat dudukku. Siapa dia? Apakah dia murid baru? Sepertinya aku tak pernah melihatnya sebelumnya. Aku menuju tempat duduk ku dan dengan sangat terpaksa aku duduk di samping laki-laki tersebut. Ku amati dia dari atas sampai bawah. “sepertinya aku pernah melihatmu” ucapku mengagetkan laki-laki tampan itu yang tengah membaca bukunya. “iya, aku tadi yang menabrakmu di koridor sekolah. Aku minta maaf” sesal laki-laki tampan itu. aku tak menggubris ucapannya. Ku ambil novelku dan mulai membacanya. “kau cewek yang unik. Bolehkah aku berkenalan denganmu?” ucap laki-laki tersebut sambil menjulurkan tangannya. “Agni Larissa. Panggil agni” jawabku membalas uluran tangannya. “Ozy Lovarian. Panggil aku ozy. Bolehkah aku menjadi temanmu?” pintanya. “kau mau jadi temanku? Tidak salah? Aku bukan anak baik-baik. Aku anak yang banyak masalah. Aku tidak mempunyai teman disini”. “jangan seperti itu. aku ingin mengenalmu lebih. Kalau kamu mau aku jadi temanmu, aku bersedia” kata ozy. “iya aku mau berteman denganmu. Salam kenal ya ozy. Semoga kamu tidak bosan dengan aku.” Kataku merendah. “hey, bagaimana kalau kamu nanti main kerumahku. Kata mamahku, hari ini dia masak banyak tetapi papahku tidak pulang kerumah. Jadi bagaimana kalau kita makan siang dirumahku sebagai salam perkenalan dari aku.” Pinta ozy. “boleh zy”. Jawabku.
Bel pulang berbunyi. Aku dan ozy mengendarai sepeda bersama menuju ke rumah ozy. Katany tidak jauh dari sekolah. Sesampainya di rumah ozy, kita disambut oleh mamahnya yang cantik. “anak mamah sudah pulang. Ini siapa cantik sekali zy” kata mamah ozy sambil melihatku. “ini agni mah. Teman sebangku ku di sekolah ozy yang baru”. “Agni tante” kataku sambil menjabat tangan mamah ozy. Kemudian kami masuk kerumah ozy dan makan siang bersama. Betapa harmonisnya keluarga ozy. Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini bersama ayah dan ibu. Tapi apa daya, mereka selalu sibuk dengan dunia mereka. Dan bahkan tak ada waktu untukku.
Aku pulang dengan penuh harapan. Berharap semoga ayah dan ibukku sudah berada dirumah saat ini dan siap makan malam bersama seperti dulu. Memang benar mereka sudah berada dirumah saat ini. Namun mereka pulang hanya untuk melanjutkan pertengkaran mereka. Aku melihat secara langsung pertengkaran mereka. “oh tuhan. Apakah mereka tidak dapat dipersatukan kembali seperti dahulu. Apakah mereka benar-benar ingin berpisah. Apakah mereka tidak memikirkan nasib anaknya ini? Aku muak dengan semuanya” “arrggghhh”. Darah segar mengalir  dari hidungku. Kepalaku sangat pusing sekali. Aku memilih untuk tidur setelah membersihkan darah di hidungku. Belakangan ini memang sering sekali hal ini terjadi padaku. Esok harinya aku pergi kedokter ditemani ozy. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa aku divonis mengidap leukimia. Aku tahu penyakit itu cukup mematikan. Dokter mengatakan hidupku tak lama lagi. aku mengis mendengarnya. Ozy berusaha menenangkan aku. “ag yang sabar ya ag. Tuhan pasti tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Kamu yang tabah ya. Ada aku disini” kata ozy. “terimakasih ozy. Tolong jangan beritahu orang tuaku tentang penyakitku. Tolong zy.” Pinta ku. “baiklah ag kalau itu maumu.” “terimakasih sekali zy. Kamu adalah sahabat terbaikku”. Ozy tersenyum kearahku.
3 bulan sudah berlalu. Ayah dan ibuku sudah benar-benar bercerai. Kini, aku tinggal bersama ibuku dan seorang pembantuku yang masih setia bersama kami. Ibu masih tetap sama, sibuk dengan butik-butiknya dan rekan-rekan bisnisnya. Aku rindu sekali dengan keluarga yang utuh. Aku sangat merindukan saat kita liburan bersama-sama. Sudah lama sekali aku tak pernah merasakannya. “ayah... ibu... aku rindu kalian. Apa kau juga merasakan hal yang sama?”. Mengenai penyakitku, orang tuaku belum mengetahuinya sampai sekarang. Padahal aku takut, saat aku sudah pergi nanti mereka belum bisa bersatu kembali. Satu hal yang aku sangat inginkan sebelum aku pergi, aku hanya ingin pergi bertamasya ke taman bersama kedua orang tuaku seperti waktu aku kecil. aku ingin dimanja. Aku ingin dipeluk dengan penuh kasih sayang.
Hari demi hari tubuhku semakin melemah. Aku sering pingsan dan mimisan. Berkali-kali aku dirujuk untuk melakukan kemoterapi tetapi aku selalu menolak. Dan ozy lah yang selalu tahu keadaanku. Hingga pada suatu hari tubuhku terasa sangat ringan. Darah terus mangalir di kedua lubang hidungku. Kepalaku sangat pusing dan akhirnya aku pingsan disekolah. Kemudian ozy bersama teman-temanku membawaku kerumah sakit. Ozy masih berusaha untuk menghubungi kedua orang tuaku. 2 jam berlalu orang tuaku belum kunjung datang hingga aku sudah sadar dari komaku. Aku memanggil ozy dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki. “ozy, aku capek zy. Mungkin ini sudah saatnya. Tolong berikan kotak ini kepada mereka dihari pemakamanku. Sampaikan maafku kepada mereka dan kau juga harus minta maaf karena telah merahasiakan tentang penyakitku.”. ucapku dengan terbata-bata. “jangan berkata seperti itu ag. Kamu pasti sembuh. Agni yang aku tahu itu cewek yang kuat. Ayo ag kamu harus semangat ubtuk sembuh” ucap ozy sambil menangis. “terimakasih sudah menjadi sahabatku selama ini zy. Terimakasih untuk semua kebaikanmu. Aku bahagia bisa mengenalmu. Maafkan aku kalau aku banyak salah. Aku pergi zy.”
Tubuhku terasa sangat ringan sekali. Seperti hendak diterbangkan ke alam yang berbeda. Mataku perlahan menutup untuk selama-lamanya. Inilah akhir dari semua perjuanganku. Aku siap untuk meninggalkan dunia yang indah ini. Tuhan sudah mengizinkanku untuk pulang. Ayah ibu maafkan aku telah pergi tanpa pamit. Aku harap kalian bisa lebih bahagia tanpa aku yang selalu menyusahkan.
Kini tiba dihari pemakamanku. Tempat peristirahatan terakhirku. Disana sudah terdapat banyak orang untuk menyaksikan kepergianku. Tak terkecuali ozy, orang tua ozy, ayah dan ibu ku. Aku melihat mereka dari kejauhan. Ayah dan ibuku menangis melihat aku menyatu dengan tanah. Kulihat ozy akan memberikan kotak itu kepada orang tua ku. Ozy menyampaikan maafnya. “om, tante, ozy minta maaf. Dari awal ozy tidak berkata jujur kepada om dan tante. Agni mengidap leukimia sudah sejak 3 bulan yang lalu. Agni melarang ozy untuk menyampaikan hal ini kepada orang tuanya. Agni menitipkan ini kepada ozy untuk diberikan kepada orang tuanya.” “terimakasih ozy sudah ada untuk agni selama ini. Ini semua salah kita. Kita terlalu sibuk sehingga agni tak pernah bercerita kepada kami. Terimakasih banyak ozy”. Ucap ibuku. “sama-sama tante. Ozy pergi dulu. Permisi om, tante.” Kemudian orang tuaku mulai membuka kotak itu. di dalamnya terdapat fotoku waktu kecil yang sedang berlibur di taman bersama orang tuaku. Mereka juga membaca surat yang sudah aku tulis sebelumnya.
“yah, bu, saat kalian membuka kotak ini, pasti kalian telah melihat aku menyatu dengan tanah. Aku senang sekali kalian bisa menyempatkan diri untuk hadir dihari pemakamanku. Maafkan aku tidak pernah jujur tentang penyakitku. Aku takut kalian merasa terganggu karena merawatku yang tak akan bisa sembuh. Terimakasih ayah ibu sudah membesarkanku. Sebenarnya aku tidak pernah setuju dengan perceraian kalian. Tetapi apa boleh buat. Aku merindukan saat kita bertamasya seperti difoto itu. aku ingin dimanja, disayang, berlarian bermain bersama kalian. Tetapi tidak usah merasa bersalah yah bu. Disini aku sudah mendapatkan taman yang indah disurganya tuhan. Selamat tinggal ayah dan ibu. Aku sayang kalian J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar