Saba Muscomp vol 5 menjadi saksi,
kali pertama aku jumpa dengan sosok dirinya. Saba muscomp atau saba music
competition adalah kompetisi band antar sekolah dengan bintang tamu grup band
yang kebanyakan beraliran ska. Awalnya aku sama sekali tak berminat dengan
acara itu. aku datang hanya untuk melihat mantan kekasihku disana. Ya, hanya
untuk menyenangkannya. Mantan kekasihku itu memang sangat menyukai band aliran
ska. Dia yang memperkenalkanku dengan musik yang identik dengan moshing,
berdansa atau berdanska yang sering dia sebut sebut itu. entahlah.
Aku datang ditemani seorang
sahabatku. Salma. Dia memang baik hati, padahal sebelumnya dia tak pernah
mengenal acara apa itu. Dia tidak menolak untuk menemaniku hanya sekadar
menyenangkan mantan kekasihku. Namun teganya mantan kekasihku itu. Aku sudah
berusaha datang untuk dirinya dan namun dia tak mau menemuiku. Dia lebih
memilih bersama teman-teman komunitasnya. Yasudahlah namanya juga mantan, tak
bisa jadi yang diutamakan. Aku dan Salma memutuskan untuk mencari tempat
berlindung dari teriknya matahari di siang hari. Di pinggir lapangan saba, di
bawah pohon cemara.
Tak berapa lama kemudian, seorang
laki-laki berbadan tidak terlalu jangkung mengenakan kaus berwarna hitam,
dengan celana jeans berwarna krem dan sepatu converse hitam datang menghampiri
tempat kami berteduh. Rupanya ia tengah mencari tempat untuk berteduh juga. Ia
duduk tak jauh dariku dan sahabatku. Ternyata laki-laki itu adalah teman masa
kecil Salma. Mereka asyik sekali berbincang-bincang. Sampai aku tak sempat
dikenalkan pada laki-laki itu. sebenarnya sedari awal aku sudah memperhatikan
laki-laki itu. dari cara ia bicara, bercerita dan berhumor pun aku perhatikan.
Aku sengaja tak mengubah posisi dudukku yang sedikit membelakanginya, agar ia
tetap tak sadar jika mataku mengarah padanya. Dia sesekali menengok ke arahku,
namun seketika ku alihkan pandanganku berpura-pura tidak tahu menahu. Meskipun
begitu, sesekali mata ini tetap ku biarkan bertemu dalam tatapan kecil
dengannya.
Kurasakan ada yang beda saat dia
datang. Hatiku tak karuan. Jantungku berdegup kebih kencang. Ada sesuatu yang
menggusarkan hati saat ia pergi. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada
pandangan pertama? Secepat ini aku jatuh hati? Pada pria yang sebelumnya belum
pernah kutemui. Aku tidak yakin. tetapi tak bisa di pungkiri, ia memang tampan.
Meskipun berbaju hitam dengan kulit tubuhnya yang hitam (namun manis) ia tetap
menawan.
“Dia siapa? Namanya siapa? Kok kamu kenal?” tanyaku pada Salma
setelah kepergian laki-laki itu.
“Rafli namanya. Temanku sewaktu SD hingga SMP. Dia itu saudaranya
mantan kekasihku, Rizky itu loh yang pernah kuceritakan padamu”
“Oh....” balasku dengan membulatkan mulut
“Dia kelas apa? Kok aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?”
lanjutku
“IPS 5”
“Nama lengkapnya siapa?”
“Aduh siapa ya. Aku lupa nama lengkapnya. Pokoknya ada A A siapa gitu”
“Yah.. kok lupa sih” jawabku manyun
“Memangnya ada apa? Kamu menyukainya? Wah Marsha ciee...” ledek Salma
“Ih apaan sih. Tidak kok. Aku hanya
kagum saja. Dia kecil item tapi manis ya hehe. Eh keceplosan deh”
Dengan sigap ku tutup mulutku
setelah menyadari aku sudah mengungkapkan apa yang aku rasakan sedari awal
laki-laki itu datang.
“Ciee keceplosan. Bagaimana? Apa mau ku kenalkan kau padanya? Kamu
percaya tidak, dia itu tidak pernah pacaran loh sebelumnya”
“Masak sih?”
“Iya beneran. Rafli itu orangnya polos banget, aku dengar katanya dia
tidak pernah menyatakan cinta pada seorang perempuan. Dia juga anak gamers seperti
sepupunya, Rizky. Hmm aku baper lagi kan”
“Aduh Salma penyakit bapernya kambuh lagi deh.”
“Rafli tidak pernah pacaran? Tidak
pernah nembak cewek? Apa iya? Padahal dia tampan dan juga keren. Hmm aku jadi
penasaran sama dia” fikirku dalam hati
Hari terus berganti. Seminggu. Dua
minggu. Satu bulan. Dua bulan. Aku sudah tak lagi mempunyai hubungan dengan
mantan kekasihku. Sudah satu bulan aku dan dia tak pernah berkomunikasi karena
dia sudah mempunyai kekasih baru. Akupun sudah benar-benar move on dari mantan
kekasihku itu.
Suatu hari aku tiba-tiba teringat
dengan sesosok pria di acara muscomp beberapa bulan lalu. Aku kembali penasaran
dengan Rafli. Bagaimana dia sebenarnya? Ternyata rasa ingin tahuku
berkepanjangan. Aku menceritakan ini kepada Salma, sahabatku. Dia menawarkan
pin bbm Rafli padaku. Namun aku menolaknya, dengan alasan “Masak cewek invite
duluan sih.” Aku masih gengsi dan terlalu takut memulai perkenalan itu.
Pagi itu aku berangkat sekolah
lebih pagi dari biasanya. Aku tak tahu mengapa aku ingin berangkat pagi. Aku
memarkirkan beat hitamku di tempat parkir yang menghadap timur. Dari tempatku
berdiri, aku melihat seorang pria mengenakan jaket jamper berwarna biru dongker
sedang memarkirkan motornya juga. Rasanya tak asing dengan wajah tersebut. Dan
ternyata benar, dia adalah Rafli. Laki-laki di acara muscomp waktu itu. aku
senang sekali dapat bertemu dengan dia pagi ini di parkiran sekolah.
‘Kok aku merasa senang sekali ya
bertemu dengan dia. Padahal kan aku tidak kenal sama dia. Hanya tau namanya
saja. Tapi tadi dia terlihat keren sekali dengan jaketnya.’ ‘Ah apa iya aku
menyukainya? Secepat ini? Pada pandangan pertama? Ah sial’
Tanyaku dalam hati yang entah
mengapa terus memikirkan laki-laki itu dan memutar ingatan beberapa bulan lalu
saat jumpa pertama kami di muscomp. Jatuh cinta katanya butuh proses yang
panjang. Tetapi mengapa ini secepat kilat. Ah mungkin ini bukan jatuh cinta.
Mungkin ini hanya rasa suka biasa. Namun rasa ingin tahu ku tentang dirinya
semakin besar. Aku ingin mengenalnya. Benar-benar mengenal bukan hanya tau nama
saja. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Salma.
“Salma....” panggilku manja seperti anak TK yang sedang merengek
minta mainan
“Iyaaa...” jawab Salma tak kalah manja
“Ih sok imut deh”
“Emang imut”
“Salma apaan sih tidak lucu tau”
“Memangnya siapa yang melawak? Aku kan bukan pelawak” jawabnya santai
“Iya deh terserah kamu. Tapi tetap saja kamu sama aku jelas imut aku.
Kan tuaan kamu dari aku wlek.”
“Eitsss jangan bawa umur yaaaa orang cuma beda satu bulan saja kok
huu”
“Sudah deh! Aku kesini bukan mau debat masalah umur sama kamu hffff”
“Lalu? Eh bentar dulu! Pasti ini ada maunya. Datang-datang
manggil-manggil sok manja gitu”
“Emang! Hehe”
“Ada apa cintaku sayangku manisku manjaku, teman ‘utak-utukku’?”
“Kamu masih punya pin bbm-nya Rafli apa tidak?”
“Masih. Mengapa memangnya?”
“Mau minta dong.....” pintaku dengan wajah memelas
“Katanya kemarin tidak mau. Katanya masak cewek duluan yang invite.
Katanya gengsi. Katanya....”
“Sekarang sudah tidak! Aku semakin penasaran. Daripada aku mati
penasaran sebelum kenal sama dia lebih baik aku terima saja tawaran kamu
kemarin, Ma. Please... boleh ya ya”
“Oh gitu. Gimana yaaa kasih tidak ya”
“Ayolah! Salma kan cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin
menabung.”
“Yee kamu memuji kalau ada maunya
saja. Nih cari saja sendiri dikontak bbmku” kata Salma yang akhirnya hatinya
luluh dan meminjami aku ponselnya.
Aku mengetik nama dia di layar
ponsel Salma. R A F . Baru sampai huruf ke tiga ternyata namanya sudah muncul di
layar ponsel Salma. Dengan cepat aku membuka profil bbmnya dan mencari pinnya.
Hatiku tak karuan. Masih ada sedikit keraguan untuk meng-invite dia. Tapi....
“Ah kelamaan. Sini hpku kalau tidak jadi” suara Salma mengagetkanku
yang tengah melamun
“Eh eh iya iya ini juga mau invite kok.”
“Nah gitu kan bagus dari kemarin. Sekarang, tinggal tunggu Rafli acc
deh”
“Kok aku jadi deg-degan begini ya, Ma. Nanti kalau aku sudah di
invite aku harus bagaimana?”
“Ya kamu chat dia dong. Katanya mau kenal lebih dalam lagi sama dia.”
“Iya sih. Tapi nanti kalau dia tidak meresponku bagaimana? Kalau
nanti dia tidak acc pin aku bagaimana? Kalau nanti dia...”
“Sudah deh, Sha. Kamu tuh terlalu banyak berfikiran negatif. Positif
thingking saja. Dijalani saja dulu. Dia orangnya baik kok. Aku yakin dia pasti
mau kenalan sama kamu”
“Amin... makasih Salmaku cintaku
sayangku teman ‘utak-utukku’. Salma memang terbaik muahhh”
Aku memeluk Salma dengan sangat
erat. Yang aku peluk nampaknya merasa risih dengan tingkahku ini. Biar saja,
karena aku merasa sangat senang sekali bisa dapat dukungan dari sahabatku ini.
2 hari kemudian pada saat aku
membuka bbmku, aku menemukan sebuah nama yang nampaknya tak asing bagiku.
RAFLI. Aku senang sekali. Ternyata pinku
sudah di acc. Sekarang giliran mentalku yang diuji. Bagaimana caranya
memberanikan diri untuk memulai perkenalan dengan seorang lelaki. Jujur aku
takut. Namun jika bukan aku yang memulai, aku tidak akan pernah mengenal sosok
lelaki itu. Ku kumpulkan semua nyali-nyaliku. Ku kerahkan semua untuk memulai
percakapan di obrolan bbm.
“PING!!!”
Tak lama, Rafli membaca chat itu.
hatiku sudah tidak menentu. Bagaimana ini? Dia jawab apa? Aku harus balas apa
lagi? aku sungguh bingung.
“Iya. Ada apa?” balasan singkat Rafli
“Intro” balasku langsung to the
point dengan segala nyali yang tersisa
“Rafli. Kelas 11 Ips 5. Intro back”
Aku memperkenalkan diriku. Obrolan
itu berlanjut hingga malam hari. Sifat humorisnya memang benar-benar membuat
suasana yang awalnya dingin menjadi lebih hangat dengan candaannya. Aku
terhanyut dengan banyolan konyol yang ia ciptakan. Hingga aku tak sempat
bertanya lebih banyak mengenai dirinya. Biarlah. Yang penting aku sudah
berhasil berkenalan dengan dia. Senang sekali rasanya. Kalau tak ada muscomp
waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok laki-laki yang tak
terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang membuat penasaran.
Berawal dari tatap
Indah senyummu
memikat
Memikat hatiku
yang hampa lara
Ya, aku membuatnya hadir dikehidupanku setelah kepergian mantan
kekasihku.
Apakah dia sebagai pelarianmu?
Bukan! Sama sekali aku tak berniat seperti itu. Aku sungguh ingin
mengenalnya. Menjadi temannya. Namun aku sama sekali tak mencegah hatiku untuk
jatuh hati padanya. Pada semua yang aku kagumi tentang dirinya.
Mengapa hatimu bisa jatuh cinta secepat ini?
Tidak! Aku belum benar-benar jatuh cinta padanya. Aku hanya menyukai
dan mengagumi paras pun sifatnya.
Bagaimana jika nantinya kau akan jatuh hati padanya?
Biarkanlah. Hati siapa yang tau. Hati tak bisa memilih pada siapa ia
akan jatuh.
Bagaimana jika kau jatuh hati sedangkan ia tidak?
Tidak apa-apa. Cinta ‘kan tak harus memiliki. Setidaknya biarlah aku terus mengaguminya dalam diam, meskipun aku tau
perasaan ini nantinya tak terbalaskan dan mungkin salah.