Aku
masih tak percaya dengan peristiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat
Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi
berkenalan dengan dia katanya. He he
Semoga
ada hari-hari pertama selanjutnya....
~~~
Matahari
perlahan turun, bulan bergantian naik-naik ke puncak langit bukan gunung.
Bintang-bintang berjajar membentuk rasi yang bermacam-macam. Malam ini langit
begitu indah dengan taburan meses dipermukaannya. Bukan, itu bintang. Malam ini
begitu indah. Ditambah dengan ponselku yang ramai dengan pesan-pesan singkat dari
Rafli. Malam ini aku yang memulai obrolan via bbm. Aku heran, nyaliku besar
juga. Aku yang orangnya tidak suka menunggu jadi suka menunggu, menunggu balasan
pesan singkat dari Rafli. Hanya itu hal menunggu yang kusuka. Tidak pernah ada
obrolan serius malam itu. Semua penuh dengan canda karena memang sifat Rafli
yang humoris. Setiap kali aku ingin bertanya perihal kehidupan pribadinya,
selalu kuurungkan. Aku khawatir jika obrolan itu kualihkan akan merusak suasana
yang membuat Rafli jadi tidak nyaman. Padahal aku ingin sekali mengenal dia
lebih jauh. Tapi jangan kejauhan nanti tersesat kerumah orang.
Ditengah-tengah
chat via bbmku dengan Rafli, tiba-tiba Rafli mengirim sebuah gambar. Gambar itu
adalah sebuah acara berita ditelevisi yang difoto. Mungkin Rafli yang melakukan
atau siapa aku tidak sempat bertanya. Rafli mengirim gambar itu dengan disertai
tulisan “Marsha, tahu tidak ada anak yang bernama D?”.
“Memang ada? Aku tidak tahu Rafli.” Balasku.
“Iya ada tadi waktu aku melihat berita di tv.
Aneh ya.” Jawab Rafli “Besok kalau kamu punya anak, mau kau beri nama siapa?”
“Belum tahu. Tak pernah berfikir sampai
segitu.”
“Kalau aku punya anak nanti, mau kuberi nama Cecep.”
“Hahaha. Kenapa?” kutanya Rafli
“Kamu tahu sinetron Cecep yang diperankan
Anjasmara dulu?” Tanya Rafli. “Tapi aku lupa judulnya apa soalnya sudah lama”
“Iya aku ingat Rafli. Oh anak kamu, kamu beri
nama Cecep biar tampan seperti Anjasmara?”
“Bukan.
Biar dia punya teman Alien dan bisa naik pesawat Ufo”
Aku
tertawa membaca balasan dari Rafli. Aku suka suasana seperti ini. Selalu ada
hal-hal yang dia buat lelucon. Meskipun terkadang garing semacam jamur crispy yang biasa Salma bawa kesekolah. Tetapi
tetap kusuka.
Tiba-tiba
ada pesan masuk di grup bbm. Rupanya dari grup Marching Band yang mengabarkan
bahwa besok sepulang sekolah ada latihan untuk persiapan mengiringi upacara HUT
PGRI. Ternyata tak hanya mengiri upacara, kami juga harus memberi persembahan
di depan bupati dan para tamu undangan setelah upacara selesai dengan beberapa
lagu andalan tim Marching Band Sabaku. Begitu biasa disebut. Sebuah kebanggan
tersendiri dapat menjadi bagian dari tim Marching Band Sabaku. Aku telah
bergabung sejak awal masuk SMA. Entah mengapa ekstrakulikuler ini yang kupilih.
Intinya banyak pengalaman yang kudapat disini.
“PING!!!
PING!!! PING!!!”
Tiga
kali tulisan PING!!! khas bbm kulihat muncul di notif ponselku. Ku pikir siapa
ternyata Rafli.
“Iya Rafli ada apa?”
“Kemana saja? Lama sekali balasnya.”
“Maaf tadi baru baca pengumuman di grup MBS.”
“Ada apa memang?” tanya Rafli yang mungkin
agar tidak tersesat karena malu bertanya itu sesat dijalan.
“Oh itu besok ada latihan untuk persiapan
upacara HUT PGRI di Kabupaten.” Jawabku dengan jujur karena bohong itu dosa.
“Jam berapa?”
“Pulang sekolah. Biasa mulai sih jam 3.”
“Ya sudah tidur yuk. Sudah larut.”
“Yuk. Btw, ucapin mau tidak?” aku sedikit
menggoda Rafli
“Maksudnya?”
“Selamat
malam, Rafli.”
Untuk
pertama kalinya, ucapan itu untuk Rafli. Semoga saja Rafli tidak berpikir
sampai kemana-mana takut nyasar. Aku tak berharap banyak Rafli akan membalas
ucapanku tersebut. Setidaknya aku sudah senang mengucapkannya meskipun awalnya
ragu. Namun ternyata...
“Selamat
malam juga, Marsha. Mimpi indah.”
Rafli
membalasnya dengan sangat indah. Untuk kamu yang sedang menyukai seseorang dan
dia melakukan itu padamu, aku dapat menjamin perasaanmu sedang aku rasakan
sekarang. Maklumilah untuk orang yang sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tak
membalas lagi obrolan itu. Biarlah dia kira aku sudah terbang ke alam mimpi
padahal belum. Aku memang terbang, terbang karena ucapanmu, Raf. Mimpiku pasti
indah malam ini.
~~~
Pagiku
indah hari ini serasa ada semangat baru untuk memintaku datang lebih awal
kesekolah. Kukendarai honda beat hitam ku sampai sekolah. Nampaknya beat
hitamku tetap menginginkan singgasana yang sama. Tetapi tak kujumpai motor
matic merah yang tak bisa kusebut mereknya disana. Sepertinya sang pengendara
belum sampai, atau memang aku yang terlalu pagi. Hff kutarik nafas panjangku
mencoba menikmati udara pagi di tempat ini, pinggir lapangan hijau sekolah.
~~~
Tidak
terasa tujuh setengah jam kulalui dengan setumpukan buku-buku beserta
masing-masing guru pengampu yang telaten memberi ilmu-ilmu kepada muridnya yang
tak pernah jemu untuk menjadi sukses di masa depan sebagai generasi penerus
bangsa. Lagu “Terimakasih Guruku” berkumandang begitu lantang mewakili perasaan
pendengarnya yang ingin cepat pulang karena lapar mungkin.
Kemudian
aku keluar kelas dan segera menuju kamar mandi. Hendak ganti baju untuk latihan
marching band sore ini. Usai ganti baju aku menuju singgasana beat hitamku
menunggu untuk menitipkan seragamku kepadanya. Aku terkejut tapi sedikit saat
mendapati seseorang duduk diatas penungguku. Maksudku sepeda motor beat
hitamku.
“Hey kamu mengapa ada disini?” tanyaku kepada
penunggu itu.
“Menunggu tempat parkir ini sepi.” Jawabnya
“Harus ya duduk diatas motorku? Motormu
mana?” tanyaku sedikit seperti marah padahal tidak
“Aku tidak punya motor.” Jawabnya santai.
“Lalu kau berangkat sekolah naik apa?”
“Mengendarai kuda supaya baik jalannya”
“Hahaha. Serius?”
“Tidak punya kuda aku mah.”
“Terus tadi katanya.”
“Itu menyanyi saja”
“Hahaha”
“Padahal sudah kubayangkan ada siswa
berangkat sekolah naik kuda.”
“Gimana bayanginnya?”
“Ya bayangkan saja.”
“Jangan bayangkan kuda. Bayangkan aku saja.
Tampanan aku dari kuda kok.”
“Hahaha.”
“Hey katanya
kamu ada latihan marching sore ini? Kok disini?” tanya seseorang yang sedari
tadi telah bicara denganku.
Ya,
dia Rafli yang sepertinya sengaja menungguku atau aku yang terlalu berharap.
Aku tak tahu. Biarkan aku senang berkhayal.
“Iya,
mau naruh ini di motor.” Kujawab sambil memperlihatkan tas yang kutenteng yang
berisi seragam.
“Oh
iya, tadi aku beli susu ultramilk. Niatnya sih beli 1, berhubung di kantin
tidak ada kembalian, ya sudah kembaliannya aku belikan minum lagi. Terus ‘kan
tidak mungkin aku minum keduanya, bisa kembung perut aku. Ini yang satu buat
kamu saja. Sekalian biar kamu cepat gede, harus minum susu. Hahaha” Kata Rafli
panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume sambil memberikan minum itu
kepadaku.
“Ini
benar buat aku? Ahh kamu tahu saja aku lagi haus. Susu ultramilk lagi. Kau tahu
tidak, ini minuman kesukaan aku. Kalau tidak tahu, baru saja kau ku kasih tahu.
Hehe terimakasih Rafli” Jawabku sumringah kemudian meminum minuman dari Rafli.
“Alhamdulillah kalau kamu menyukainya.”
“Eh tapi ini dingin ya.”
“Iya. Kamu tidak suka dingin?”
“Aku suka. Tapi tidak boleh sama pelatihku.
Katanya sebelum latihan atau selama latihan jangan minum minuman yang dingin.”
“Kok gitu?”
“Iya katanya gak bagus buat tenggorokan
soalnya aku pegang alat tiup dan meniup harus pakai tenggorokan maupun
kerongkongan, kan. Tapi tidak apa-apa deh. Sekali ini saja bandel hahaha.”
“Oh gitu eh maaf deh tidak tahu aku,”
“Tidak
apa-apa Rafli. Ini juga sudah tidak terlalu dingin kok.” Jawabku. “Tenang
saja.”
Kamu tahu
selama aku meminum susu ultramilk
pemberian Rafli, aku tak berhenti dari bahagia yang sedang kurasa. Seperti aku
mimpi padahal tidak. Itu susu ultramilk pertama
dari Rafli. Semoga ada untuk selanjutnya...
10
menit yang lalu aku dapat pesan dari teman yang biasa berangkat latihan
Marching Band bersamaku, Dinda. Dia memintaku untuk menunggunya di parkiran
sekolah karena dia sedang ada urusan diluar sekolah. Akhirnya aku di tempat
parkir ini –lagi- berdua saja bersama Rafli. Suasananya hening. Diantara kami
tak ada yang memulai percakapan. Aku pun takut dan salah tingkah disini.
“Marsha, kamu di Marching Band pegang alat
tiup apa?” Rafli bertanya seperti memecah keheningan diantara kami.
“Aku pegang terumpet.” Jawabku
“Tidak capek apa niup terus begitu?”
nampaknya Rafli mulai serius.
“Ya bagaimana ya. Capek pasti ya ada. Apalagi
jika bermain parade. Harus berjalan kaki terus sambil meniup terumpet bermain
banyak lagu. Tapi kalau sudah suka, secapek apapun ya tetap asik. Dijalani saja”
“Oo begitu. Btw, besok kamu upacaranya dimana?
jam berapa? Selesai jam berapa?”
“Belum tahu dimananya. Kalau tidak di
alun-alun ya di pendopo kabupaten. Mulainya ya seperti upacara pada umumnya. Kembali
ke sekolah biasanya jam 9 atau 10” Jelasku panjang lebar. “Eh itu Dinda sudah
kembali. Rafli, aku mau latihan dulu ya. Mau pulang apa masih disini menunggu
tukang bakpau?”
“Hahaha. Mau disini tapi bukan menunggu
tukang bakpau?”
“Menunggu siapa lagi?”
“Menunggu yang lagi latihan”
Aku diam mendengar perkataan Rafli. Namun sekejap
dibuyarkan dengan suara tertawanya.
“Hahahaha. Aku mau pulang Marsha. Semangat latihan
ya.”
“Hehe
terimakasih. Hati-hati pulangnya, Raf.”
Aku
berlalu dari Rafli kemudian menuju tempat dimana aku biasa latihan Marching
Band. Yang pasti kali ini bukan tempat parkir. Aku masih terbayang dengan apa
yang Rafli katakan. Aku senang Rafli jika kamu seperti itu seterusnya kepadaku.
~~~
Jarum
jam menunjukkan pukul lima. Latihan usai dan aku segera pulang. Saat sampai di
tempat motorku parkir, ku dapati ada susu ultramilk
diatas motorku.
“Ini
kan ultramilknya Rafli. Jadi, tadi
dia tidak meminum ultramilknya karena
akan diberikan kepadaku lagi. Terimakasih Rafli untuk susu ultramilk yang kedua kali. Kau hilangkan lagi rasa hausku disenja
ini, beserta capeknya” Gumamku.