Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Selasa, 27 Desember 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Pemilik Ultramilk"

Aku masih tak percaya dengan peristiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi berkenalan dengan dia katanya. He he
Semoga ada hari-hari pertama selanjutnya....
~~~
Matahari perlahan turun, bulan bergantian naik-naik ke puncak langit bukan gunung. Bintang-bintang berjajar membentuk rasi yang bermacam-macam. Malam ini langit begitu indah dengan taburan meses dipermukaannya. Bukan, itu bintang. Malam ini begitu indah. Ditambah dengan ponselku yang ramai dengan pesan-pesan singkat dari Rafli. Malam ini aku yang memulai obrolan via bbm. Aku heran, nyaliku besar juga. Aku yang orangnya tidak suka menunggu jadi suka menunggu, menunggu balasan pesan singkat dari Rafli. Hanya itu hal menunggu yang kusuka. Tidak pernah ada obrolan serius malam itu. Semua penuh dengan canda karena memang sifat Rafli yang humoris. Setiap kali aku ingin bertanya perihal kehidupan pribadinya, selalu kuurungkan. Aku khawatir jika obrolan itu kualihkan akan merusak suasana yang membuat Rafli jadi tidak nyaman. Padahal aku ingin sekali mengenal dia lebih jauh. Tapi jangan kejauhan nanti tersesat kerumah orang.
Ditengah-tengah chat via bbmku dengan Rafli, tiba-tiba Rafli mengirim sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah acara berita ditelevisi yang difoto. Mungkin Rafli yang melakukan atau siapa aku tidak sempat bertanya. Rafli mengirim gambar itu dengan disertai tulisan “Marsha, tahu tidak ada anak yang bernama D?”.
“Memang ada? Aku tidak tahu Rafli.” Balasku.
“Iya ada tadi waktu aku melihat berita di tv. Aneh ya.” Jawab Rafli “Besok kalau kamu punya anak, mau kau beri nama siapa?”
“Belum tahu. Tak pernah berfikir sampai segitu.”
“Kalau aku punya anak nanti, mau kuberi nama Cecep.”
“Hahaha. Kenapa?” kutanya Rafli
“Kamu tahu sinetron Cecep yang diperankan Anjasmara dulu?” Tanya Rafli. “Tapi aku lupa judulnya apa soalnya sudah lama”
“Iya aku ingat Rafli. Oh anak kamu, kamu beri nama Cecep biar tampan seperti Anjasmara?”
“Bukan. Biar dia punya teman Alien dan bisa naik pesawat Ufo”
Aku tertawa membaca balasan dari Rafli. Aku suka suasana seperti ini. Selalu ada hal-hal yang dia buat lelucon. Meskipun terkadang garing semacam jamur crispy yang biasa Salma bawa kesekolah. Tetapi tetap kusuka.
Tiba-tiba ada pesan masuk di grup bbm. Rupanya dari grup Marching Band yang mengabarkan bahwa besok sepulang sekolah ada latihan untuk persiapan mengiringi upacara HUT PGRI. Ternyata tak hanya mengiri upacara, kami juga harus memberi persembahan di depan bupati dan para tamu undangan setelah upacara selesai dengan beberapa lagu andalan tim Marching Band Sabaku. Begitu biasa disebut. Sebuah kebanggan tersendiri dapat menjadi bagian dari tim Marching Band Sabaku. Aku telah bergabung sejak awal masuk SMA. Entah mengapa ekstrakulikuler ini yang kupilih. Intinya banyak pengalaman yang kudapat disini.
“PING!!! PING!!! PING!!!”
Tiga kali tulisan PING!!! khas bbm kulihat muncul di notif ponselku. Ku pikir siapa ternyata Rafli.
“Iya Rafli ada apa?”
“Kemana saja? Lama sekali balasnya.”
“Maaf tadi baru baca pengumuman di grup MBS.”
“Ada apa memang?” tanya Rafli yang mungkin agar tidak tersesat karena malu bertanya itu sesat dijalan.
“Oh itu besok ada latihan untuk persiapan upacara HUT PGRI di Kabupaten.” Jawabku dengan jujur karena bohong itu dosa.
“Jam berapa?”
“Pulang sekolah. Biasa mulai sih jam 3.”
“Ya sudah tidur yuk. Sudah larut.”
“Yuk. Btw, ucapin mau tidak?” aku sedikit menggoda Rafli
“Maksudnya?”
“Selamat malam, Rafli.”
Untuk pertama kalinya, ucapan itu untuk Rafli. Semoga saja Rafli tidak berpikir sampai kemana-mana takut nyasar. Aku tak berharap banyak Rafli akan membalas ucapanku tersebut. Setidaknya aku sudah senang mengucapkannya meskipun awalnya ragu. Namun ternyata...
“Selamat malam juga, Marsha. Mimpi indah.”
Rafli membalasnya dengan sangat indah. Untuk kamu yang sedang menyukai seseorang dan dia melakukan itu padamu, aku dapat menjamin perasaanmu sedang aku rasakan sekarang. Maklumilah untuk orang yang sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tak membalas lagi obrolan itu. Biarlah dia kira aku sudah terbang ke alam mimpi padahal belum. Aku memang terbang, terbang karena ucapanmu, Raf. Mimpiku pasti indah malam ini.
~~~
Pagiku indah hari ini serasa ada semangat baru untuk memintaku datang lebih awal kesekolah. Kukendarai honda beat hitam ku sampai sekolah. Nampaknya beat hitamku tetap menginginkan singgasana yang sama. Tetapi tak kujumpai motor matic merah yang tak bisa kusebut mereknya disana. Sepertinya sang pengendara belum sampai, atau memang aku yang terlalu pagi. Hff kutarik nafas panjangku mencoba menikmati udara pagi di tempat ini, pinggir lapangan hijau sekolah.
~~~
Tidak terasa tujuh setengah jam kulalui dengan setumpukan buku-buku beserta masing-masing guru pengampu yang telaten memberi ilmu-ilmu kepada muridnya yang tak pernah jemu untuk menjadi sukses di masa depan sebagai generasi penerus bangsa. Lagu “Terimakasih Guruku” berkumandang begitu lantang mewakili perasaan pendengarnya yang ingin cepat pulang karena lapar mungkin.
Kemudian aku keluar kelas dan segera menuju kamar mandi. Hendak ganti baju untuk latihan marching band sore ini. Usai ganti baju aku menuju singgasana beat hitamku menunggu untuk menitipkan seragamku kepadanya. Aku terkejut tapi sedikit saat mendapati seseorang duduk diatas penungguku. Maksudku sepeda motor beat hitamku.
“Hey kamu mengapa ada disini?” tanyaku kepada penunggu itu.
“Menunggu tempat parkir ini sepi.” Jawabnya
“Harus ya duduk diatas motorku? Motormu mana?” tanyaku sedikit seperti marah padahal tidak
“Aku tidak punya motor.” Jawabnya santai.
“Lalu kau berangkat sekolah naik apa?”
“Mengendarai kuda supaya baik jalannya”
“Hahaha. Serius?”
“Tidak punya kuda aku mah.”
“Terus tadi katanya.”
“Itu menyanyi saja”
“Hahaha”
“Padahal sudah kubayangkan ada siswa berangkat sekolah naik kuda.”
“Gimana bayanginnya?”
“Ya bayangkan saja.”
“Jangan bayangkan kuda. Bayangkan aku saja. Tampanan aku dari kuda kok.”
“Hahaha.”
“Hey katanya kamu ada latihan marching sore ini? Kok disini?” tanya seseorang yang sedari tadi telah bicara denganku.
Ya, dia Rafli yang sepertinya sengaja menungguku atau aku yang terlalu berharap. Aku tak tahu. Biarkan aku senang berkhayal.
“Iya, mau naruh ini di motor.” Kujawab sambil memperlihatkan tas yang kutenteng yang berisi seragam.
“Oh iya, tadi aku beli susu ultramilk. Niatnya sih beli 1, berhubung di kantin tidak ada kembalian, ya sudah kembaliannya aku belikan minum lagi. Terus ‘kan tidak mungkin aku minum keduanya, bisa kembung perut aku. Ini yang satu buat kamu saja. Sekalian biar kamu cepat gede, harus minum susu. Hahaha” Kata Rafli panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume sambil memberikan minum itu kepadaku.
“Ini benar buat aku? Ahh kamu tahu saja aku lagi haus. Susu ultramilk lagi. Kau tahu tidak, ini minuman kesukaan aku. Kalau tidak tahu, baru saja kau ku kasih tahu. Hehe terimakasih Rafli” Jawabku sumringah kemudian meminum minuman dari Rafli.
“Alhamdulillah kalau kamu menyukainya.”
“Eh tapi ini dingin ya.”
“Iya. Kamu tidak suka dingin?”
“Aku suka. Tapi tidak boleh sama pelatihku. Katanya sebelum latihan atau selama latihan jangan minum minuman yang dingin.”
“Kok gitu?”
“Iya katanya gak bagus buat tenggorokan soalnya aku pegang alat tiup dan meniup harus pakai tenggorokan maupun kerongkongan, kan. Tapi tidak apa-apa deh. Sekali ini saja bandel hahaha.”
“Oh gitu eh maaf deh tidak tahu aku,”
“Tidak apa-apa Rafli. Ini juga sudah tidak terlalu dingin kok.” Jawabku. “Tenang saja.”
Kamu tahu selama aku meminum susu ultramilk pemberian Rafli, aku tak berhenti dari bahagia yang sedang kurasa. Seperti aku mimpi padahal tidak. Itu susu ultramilk pertama dari Rafli. Semoga ada untuk selanjutnya...
10 menit yang lalu aku dapat pesan dari teman yang biasa berangkat latihan Marching Band bersamaku, Dinda. Dia memintaku untuk menunggunya di parkiran sekolah karena dia sedang ada urusan diluar sekolah. Akhirnya aku di tempat parkir ini –lagi- berdua saja bersama Rafli. Suasananya hening. Diantara kami tak ada yang memulai percakapan. Aku pun takut dan salah tingkah disini.
“Marsha, kamu di Marching Band pegang alat tiup apa?” Rafli bertanya seperti memecah keheningan diantara kami.
“Aku pegang terumpet.” Jawabku
“Tidak capek apa niup terus begitu?” nampaknya Rafli mulai serius.
“Ya bagaimana ya. Capek pasti ya ada. Apalagi jika bermain parade. Harus berjalan kaki terus sambil meniup terumpet bermain banyak lagu. Tapi kalau sudah suka, secapek apapun ya tetap asik. Dijalani saja”
“Oo begitu. Btw, besok kamu upacaranya dimana? jam berapa? Selesai jam berapa?”
“Belum tahu dimananya. Kalau tidak di alun-alun ya di pendopo kabupaten. Mulainya ya seperti upacara pada umumnya. Kembali ke sekolah biasanya jam 9 atau 10” Jelasku panjang lebar. “Eh itu Dinda sudah kembali. Rafli, aku mau latihan dulu ya. Mau pulang apa masih disini menunggu tukang bakpau?”
“Hahaha. Mau disini tapi bukan menunggu tukang bakpau?”
“Menunggu siapa lagi?”
“Menunggu yang lagi latihan”
Aku diam mendengar perkataan Rafli. Namun sekejap dibuyarkan dengan suara tertawanya.
“Hahahaha. Aku mau pulang Marsha. Semangat latihan ya.”
“Hehe terimakasih. Hati-hati pulangnya, Raf.”
Aku berlalu dari Rafli kemudian menuju tempat dimana aku biasa latihan Marching Band. Yang pasti kali ini bukan tempat parkir. Aku masih terbayang dengan apa yang Rafli katakan. Aku senang Rafli jika kamu seperti itu seterusnya kepadaku.
~~~
Jarum jam menunjukkan pukul lima. Latihan usai dan aku segera pulang. Saat sampai di tempat motorku parkir, ku dapati ada susu ultramilk diatas motorku.

“Ini kan ultramilknya Rafli. Jadi, tadi dia tidak meminum ultramilknya karena akan diberikan kepadaku lagi. Terimakasih Rafli untuk susu ultramilk yang kedua kali. Kau hilangkan lagi rasa hausku disenja ini, beserta capeknya” Gumamku.

Selasa, 20 Desember 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Dari Pojok Parkiran"

Kalau tak ada muscomp waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok laki-laki yang tak terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang membuat penasaran.
Sekarang aku sudah kenal Rafli. Rafli juga sudah kenal Marsha. Aku berharap dapat berteman baik dengan dia. Entah kalau aku jadi suka. Semenjak aku bertemu di Muscomp waktu itu, dan aku sudah kenal dia sekarang, aku jadi sering sekali bertemu dia di sekolah. Entah itu di kantin waktu istirahat, di musholla waktu sholat zuhur, di parkiran waktu pulang sekolah ataupun berangkat sekolah. Seolah-olah aku ditakdirkan kenal dia dulu baru bertemu kemudian. Pasalnya, sebelum aku kenal Rafli, aku tak pernah tau Rafli teman satu angkatan. Mungkin aku pernah bertemu, hanya saja aku tak menyadari jika itu Rafli. Sudahlah. Yang penting kita sudah kenal, meskipun via bbm.
~~~
Hari ini adalah hari dimana banyak siswa tak terlalu menyukainya. Hari dimana hari libur mereka dihentikan secara paksa. Hari dimana harus datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya untuk berdiri ditengah lapangan bersama-sama. Namun untuk kali ini aku tak setuju dengan pendapat mereka. Tapi dulu iya. Besok-besok tidak tahu lagi. Hari ini hari yang sangat kutunggu untuk mengakhiri hari liburku yang hanya di rumah. Agar aku dapat kembali ke sekolah untuk bertemu kawan-kawan dan dia. He he
Hari ini aku tak tahu mengapa aku semangat sekali datang ke sekolah. Hari-hari sebelumnya juga semangat, tetapi tak sesemangat Senin kali ini. Saking semangatnya, aku berangkat lebih pagi dari jam berangkat sekolahku biasanya. Bukan lebih lagi, sangat. Aku mengendarai sepedaku yang bermesin dengan kecepatan sedang sambil bernyanyi-nyanyi dan senyum-senyum sendiri. Aku tahu aku sedikit lebay. Tapi jika kau merasakan hal yang sama sepertiku, kau pasti akan melakukannya. Lima belas menit kemudian aku telah sampai di gerbang sekolah. Sekolahku mengharuskan siswanya turun dari kendaraan mereka, untuk menuntunnya sampai gerbang tempat parkir. Sedari turun dari sepeda bermesinku, aku melihat sosok penampakan. Eh bukan, sosok lelaki maksudku tengah duduk di atas sepeda motornya sambil bermain ponsel. Entah miliknya atau pinjam, urusan dia. Sudah kuhafal dia pasti Rafli. Di pojok parkiran, sendirian. Seperti hari-hari sebelumnya.
Sekolah masih nampak sepi karena jarum panjang jam belum menunjuk angka 9 dan jarum pendek menunjuk antara angka 6 dan 7. Syukurlah. Bisa kupastikan tempat parkir masih banyak yang kosong sehingga aku leluasa memilih. Kuputuskan menempatkan sepeda motorku tak jauh dari tempat Rafli memarkir kendaraannya. Kumaksudkan agar pulang sekolah nanti aku dapat melihatnya lagi ditempat yang sama. Pojok parkiran sekolah.
Usai kuparkirkan sepeda motorku dengan rapi, aku berjalan menuju kelasku. Aku memilih lewat jalan sebelah selatan, padahal ada jalan lain disebelah utara yang lebih dekat untuk menuju kelasku. Tak apa. Aku suka. Karena jalan itu, membuat aku bisa melihat Rafli jauh lebih dekat. Dengan maksud lain, kalau aku lewat dia turut mengikuti untuk jalan bersama. He he. Tetapi dia tidak melakukan. Melihatku pun tidak, apalagi menyapa. Dia masih tertunduk fokus dengan ponselnya. Aku sedikit kecewa. Tapi kupendam saja. Ada hak apa aku meminta kamu menyapaku. Tapi kan kita sudah kenal, Raf. Mengapa kamu tak menyapa. Setidaknya melihatku untuk sekedar tersenyum sedikit saja. Seperti itupun aku sudah senang. Kamu sebenarnya suka berteman denganku apa tidak. Mengapa sikapmu tak menunjukkan rasa senang. Aku kecewa, Raf. Semoga besok-besok aku kamu tidak melakukannya lagi.
~~~
“Salmaaaa!!!!!” teriakku sesampainya aku dikelas.
Untungnya dikelas hanya ada Salma yang memang biasa berangkat pagi. Sedangkan kawan-kawan lain tak ada. Mereka lebih suka berangkat siang. Katanya untuk apa berangkat pagi kalau sedang tidak ada pr atau tugas. Jadi tidak ada yang mendengar teriakanku selain Salma. Percaya deh, dia memang pendengar setia. Sampai kupingnya gatal mungkin.
“Ada apa Marsha??  Berisik!!” Jawab Marsha. “Untung kamu sahabatku, kalau tidak hmmm”
“Kalau tidak kau mau apa memangnya. Mau tidak kuantar pulang kau Ma” Kataku sambil menaik-naikkan alisku pertanda menggoda
“Itu pertanyaan?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Ancaman”
“ha ha ha”
“Ada yang lucu?” tanyaku melihat Salma yang tertawa
“Tidak.”
“Mengapa kau tertawa?”
“Ancaman macam apa itu.” Jawab Salma sambil menoyor kepalaku. “Sama sekali ku tak merasa kau ancam Marsha.”
“He he he”
“Anak kecil belaga mau mengancam anak gede. Sudah berani rupanya”
“Siapa bilang aku kecil. Sudah besar kok”
“Mana coba lihat”
“Nih nih lihat” kataku sambil berjinjit agar nampak tinggi. Namun gagal. Lagi-lagi Salma ketawa.
“Sudah sudah. Jangan sok tinggi kamu. Kalau kamu kecil ya kecil saja, jodohmu juga sama yang tidak tinggi-tinggi amat. Kecil juga boleh. Ha ha ha”
“Sebentar kamu bilang apa? Jodohku sama yang tidak tinggi-tinggi amat? Rafli tidak terlalu tinggi. Berarti kita boleh berjodoh dong. Asikkkk” tanyaku kegirangan
“Kamu suka sama Rafli beneran, Sha?” Tanya Salma sedikit serius
“Menurutmu?”
“Anak kecil jatuh cinta nih” ledek Salma
“Belum kok. Tapi tidak tahu kalau besok-besok”
“Memangnya mengapa”
            Aku menceritakan semua yang terjadi tadi pagi. Secara runtut mulai aku bangun tidur, terus sempat buang air pas mandi sampai dibuat kecewa Rafli. Kuceritakan semua. Nampaknya Salma tak bosan sebagai pendengar. Mungkin karena dia juga hobi membaca novel.
            “Kok aneh ya si Rafli itu. biasanya, denganku dia tidak begitu. Rafli kalau ketemu aku, dia selalu nyapa kok senyum juga. Mengapa sama kamu tidak ya padahal sudah kenalan meskipun belum langsung” kata Salma heran.
            “Bagaimana kalau kamu yang memulai dulu. Mungkin dia malu” tambah Salma
            Akupun berfikir seperti itu. Setelah kejadian tadi pagi, melihat sikap Rafli yang dingin denganku. Sepertinya aku yang harus memulai. Mungkin benar kata Salma. Mungkin dia malu. Aku memutuskan untuk mengajaknya bicara nanti sepulang sekolah.
~~~
Bel sekolah berbunyi. Murid tidur berdiri. Bukan. Mana bisa. Tapi silakan kalau mau. Lupakan. Kawan-kawan mengemasi barang-barang. Bergegas keluar ruangan. Karena sudah suntuk tujuh jam belajar. Ingin segera pulang. Bertemu ibu tercinta. Kemudian makan siang bersama. Kalau belum.
Niatku ingin segera pulang kuurungkan untuk menunggu Rafli di parkiran. Dia datang bersama seorang kawan satu kelasnya. Sampai diparkiran, kawannya izin pulang duluan, membuat Rafli sendirian dipojok parkiran. Masih sama. Dengan harap-harap cemas kuhampiri dia yang sedang mengenakan jaket. Dengan suara pelan kupanggil Rafli
“Raf”
“Iya” toleh Rafli yang baru saja selesai memakai jaketnya dari atas kepala. Jaketnya jamper. Kau tahulah bagaimana cara makainya.
“Aku Marsha.”
“Iya sudah tahu.” Jawabnya sedikit ketus
Aku merasa sikap Rafli dingin kepadaku. Beda dari Rafli yang pertama kutemui di acara Muscomp beberapa bulan lalu. Namun dari hati kecilku rasanya senang sekali bisa melihat Rafli begitu dekat. Ku dapat dari mana nyali ini. Berani sekali aku mendekatinya. Dia mengulurkan tangan seperti mengajak berjabatan. Aku masih dengan lamunanku dan tersadar saat Rafli menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahku.
“Aku Rafli.”
Dia mengulangi kalimatnya. Kemudian kembali mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku membalasnya karena sudah tidak melamun lagi.
“Tanda perkenalan. Biar resmi kita sudah kenal. Walaupun sudah kenalan di bbm.” kata Rafli.
“Eh iya iya resmi kenalan” kataku sedikit gugup karena bersalaman dengannya.
“Kamu kok masih disekolah? Tidak pulang?” Tanya Rafli.
“Ee.. tadi baru selesai mengerjakan tugas bersama temanku.” Aku sedikit berbohong. Aku tidak mau Rafli tahu kalau aku pulang terlambat karena menunggunya diparkiran sejak tadi.
            “Tidak bareng Salma?”
            “Eee... dia lagi ada ekskul tadi katanya” jawabku seadanya “kamu sendiri? Kok belum pulang?”
            “Iya. Kan lagi ngobrol sama kamu disini, jadi ya belum boleh pulang”
            “Ee.. ee.. maaf Rafli” kataku menunduk merasa bersalah.
            “Ha ha tidak Marsha, kamu tidak salah kok.” Ujar Rafli. “Lagi aku suka kok ngobrol sama kamu disini”
            “Apa? Kamu bilang apa tadi?
            Suara Rafli begitu pelan nyaris tak dapat kudengar. Mungkin fikirnya. Namun salah. Nyatanya aku mendengar jelas apa yang dia katakan. Sungguh aku bingung apa maksudnya? Dia suka ngobrol sama aku? Artinya dia.... Ah sudahlah jangan berperasangka berlebihan. Tidak baik. Tapi kau tahu, aku merasa senang dengan ucapan dia tadi.
            “Marsha ayo pulang. Sudah sore. Nanti dicariin om kamu”
            “Kok Om?” tanyaku heran.
            “Kalau ibu kamu kan sudah pasti nyariin. Mungkin om kamu mau nyari kamu juga”
            “Ha ha ha” aku tertawa mendengarnya. “Ya sudah kamu duluan saja. Aku mau mengambil sepeda motorku dulu disana”
            “Tidak. Aku mau nunggu kamu saja.”
            “Suka nunggu?”
            “Tidak.”
            “Kok mau menunggu aku?”
“Tidak enak meninggalkan perempuan di parkiran sendirian, apalagi dipojokan.”
            “Ha ha ha.”
“Sana ambil motor. Aku mau nunggu dulu.”
“Nunggu siapa?”
“Tukang bakpau.”
“Mau Beli?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Mau dengar lagunya”
“Ha ha ha.”
“Kamu bolehin aku menunggu tidak?” tanya Rafli. “Kalau tidak, aku mau tidur.”
“Ya terserah kamu kalau tidak repot.”
“Repot buat kamu tidak apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Sudah sana ambil sepeda motor kamu. Kalau sudah gelap, kamu tidak akan berani.”
“Berani kok. Kan sudah gede”
“Ha ha ha”
            Aku mengambil sepeda motorku yang tak jauh dari tempat parkir Rafli. Ku percepat langkahku agar Rafli tidak terlalu lama menunggu. Bergegas memakai helm dan masker karena rumahku cukup jauh dari sekolah. Banyak debu di jalan apalagi sore hari. Jamnya pegawai kantoran pulang kerja. Aku menganggukkan kepala mengisyaratkan siap, setelah selesai dengan segala kerepotanku. Kami keluar dari sekolah bersamaan. Ku harap tak ada yang melihat kami sejak di pojok parkiran tadi. Terutama kawanku satu kelas. Kami berpisah setelah keluar dari halaman sekolah karena arah rumah kami berbeda.
~~~
            Ku lajukan sepeda motor matic kesayanganku dengan kecepatan tinggi, hanya sebentar. Seolah-olah ingin memberitahu kepada pengendara lain bahwa sang empunya motor sedang kegirangan. Kukembalikan kecepatan motorku seperti biasa aku mengendarainya. Pelan-pelan namun pasti sampai rumah. Fikiranku terus ke Rafli. Aku sedikit heran dengan sikap dia hari ini. Tadi pagi, dia acuh sekali terhadapku. Padahal ku yakin dia melihatku saat itu. Berubah seratus delapan puluh derajat sore tadi. Kami mengobrol banyak. Layak teman akrab sudah kenal sejak lama, padahal baru saja. Karena baru dia resmikan.
Aku masih tak percaya denganperistiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi berkenalan dengan dia katanya. He he

Semoga ada hari-hari pertama selanjutnya....

Minggu, 18 Desember 2016

Dermagamu telah dilabuhi hingga bagiku kau hanyalah mimpi

Sebenarnya aku ingin menulis lagi tentangmu. Berkisah lagi. Melanjutkan cerita yang menurutku belum benar-benar usai. Mungkin, bagimu sudah. Aku ingin mendongeng lagi. Namun entah mengapa ada hal mengganjal seperti berniat ingin menyulitkan tangan mengetik. Fikiran berkutik. Hati berbisik. Padahal perasaan masih berfungsi baik.

Apa gerangan dengan kita? Eh masihkah boleh aku menyebut kita untuk aku dan kamu? Maaf jika tidak. Aku hanya masih bermimpi akan itu. Maaf jika lancang.

Sungguh aku ingin menulis untuk mengenang kamu yang pernah mengetik pesan singkat untukku. Sungguh ingin ku abadikan jika perasaanku ingin berlabuh di dermagamu. Meskipun banyak ombak menerjang perahuku yang tengah berlayar. Sebelum benar-benar berlabuh dengan tenang di dermagamu. Perahuku tak kuat menahan tingginya ombak yang terus menerus melawan. Hingga perahu lain datang dari arah berlawanan, menuju dermagamu, dan kau sambut perahu itu, ya lebih indah dari perahuku, dengan tenang tanpa peduli perahuku yang tengah berjuang ditengah lautan. Akhirnya dermagamu dilabuhi oleh perahu lain yang lebih indah, sedangkan perahuku hancur berkeping-keping di lautan, dan akhirnya tenggelam ke dasar lautan.

Mengapa keenggananmu menyulitkanku. Mengapa kepergianmu bersamanya memberatkanku. Untuk menulis kisah awal aku dan kamu sehingga kusebut "kita", menjadi suatu hal yang sangat miris. Mungkin karena kita untukmu telah berpindah haluan bukan lagi aku dan kamu namun kamu dan dia. Kamu pergi dengan dia meninggalkan segala rasa yang sudah terlanjur tumbuh. Awalnya aku tak bisa memilih selain tetap tinggal dengan kenangan. Sambil menulis hal-hal indah yang pernah kau buat. Sampai kapan aku hanya menulis tentangmu? Entahlah

Namun, kini aku merasa sulit untuk mendongeng perihal kamu. Meskipun sedikit saja rasanya. Tetap saja aku belum bisa lagi dengan mudah bercerita. Kurasa hatiku mulai menerima. Menerima kau yang sudah benar-benar hanya mimpi bagiku. Tak lagi dapat kugapai.

Oh iya ku ingat lagi bahwa perahuku sudah hancur karena ombak dan dermagamu telah dilabuhi perahu lain. Pantas saja ada sesuatu yang sulit untuk kutulis karena telah dihancurkan. Sekarang perahuku sudah tak dapat lagi berlabuh. Kuputuskan untuk membiarkan perahu lain yang berlabuh agar dermagamu tak kesepian. Tetap ada yang menyinggahi. Biarkan perahuku ditelan lautan sampai ke segitiga bermuda hingga tua nanti. Karena jika perahuku tetap memaksa berlayar, toh tetap saja perahuku sudah mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Tak akan bertahan sampai tujuan.

Jika suatu saat aku telah sanggup lagi menulis tentang aku juga kamu. Percayalah, itu bukan sebenarnya yang telah terjadi, melainkan mimpiku selama aku berlayar. Tak apa aku tetap suka. Aku tipe orang yang suka berimajinasi juga bermimpi. Imajinasi tetaplah imajinasi. Mimpi tetaplah menjadi mimpi. Kenyataan kamu hanyalah mimpi yang kuimajinasikan. Hari ini aku masih bisa bermimpi kamu. Hari-hari selanjutnya juga aku masih bisa. Tenang saja.

Rabu, 02 November 2016

November rawan baper

Memasuki bulan November. Bulan dimana rangkaian cerita itu berawal dan juga berakhir.
Siapa sangka cerita itu sudah berumur 5 tahun. Bak anak kecil yang mulai meninggalkan masa balitanya. Kamu pun telah meninggalkan saya. Dan cerita kita telah berakhir seperti berakhirnya masa balita anak itu
Anak kecil itu mulai menginjak bangku sekolah yang baru. Kamu pun telah menginjak masa yang baru tanpa diriku. Sedangkan aku menjadi yang kamu tinggalkan. Menjadi sisa-sisa jejak langkahmu yang mulai pergi. Tertinggalkan olehmu bersama kenanganmu yang kamu abaikan begitu saja. Perih.
Anak kecil itu mulai belajar membaca yang menjadi hal baru baginya, mulai belajar menulis huruf hingga terangkai kata. Kamu pun telah belajar bersama seseorang yang baru, mulai menulis peristiwa yang baru kemudian kamu rangkai aksara demi aksara hingga tercipta cerita cinta antara kamu dan wanitamu.
Sedangkan aku yang telah kau abaikan tetap hidup dengan kenangan. Hingga aku menyukainya. Menyukai kenangan bersamamu yang sudah tak bisa ku ulang. Biarlah aku akan tetap suka.
Ingatkah kau kita pernah menulis cerita dibawah skenario kehidupan? Padahal terlalu dini untuk aku bisa merasakan apa itu cinta yang sebenarnya.
Bagaimanapun juga kamu harus ingat aku adalah salah satu tokoh dalam cerita cinta pilumu.
Kenangan jangan dilupakan. Biarkan dia hidup dalam ingatan. Agar kamu tetap dapat mengikhlaskan. Jadikan dia pelajaran untuk masa depan. Semoga kamu menjadi lebih baik juga mapan dalam kehidupan.

dari pemeluk kenangan,
yang pernah kau sayang begitu dalam

Kamis, 13 Oktober 2016

Seharusnya aku, yang menggenggam tanganmu

Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidak jelasan, tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Tepat dua minggu kepergianmu yang meninggalkan banyak debu. Rasanya masih tak percaya jika kau ternyata sudah ada yang punya. Awal jumpa kita masih sangat melekat dalam ingatan. Di pinggir lapangan, di bawah pohon cemara, di pojok parkiran, dan di koridor sekolah. Mereka menjadi saksi dimana kita dipertemukan bukan hanya karena kebetulan. Aku dan kamu bertemu bukan untuk bersatu namun untuk ku merindu.

Aku bertemu denganmu, mengenal sosok dirimu, hingga aku takut kehilanganmu. Tapi... entah mengapa sikapmu tak sama seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Rasamu ingin memiliku tak sebesar rasaku ingin memilikimu. Apakah ada yang salah diantara aku dan kamu? Kamu itu dulu nggak peka apa pura-pura nggak tau. Kodeku sekeras itu pun tak kunjung kau menyadari. Perasa yang bagaimana hatimu itu.

Kamu mungkin belum paham tentang perasaanku karena kamu memang tak pernah memikirkanku. Berdosakah aku jika aku menjatuhkan air mataku karena sosokmu yang mulai menghilang? Aku sudah kehilanganmu, dan kamu sudah pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya siapa aku? Kekasihmu? Bodoh. Menerima balasan chat darimu saja aku sudah bersyukur. Apalagi menjadi milikmu? Ah aku terlalu bermimpi. Aku ‘kan tetap bukan siapa-siapa kamu.

Aku selamanya bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa selamanya. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kau letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Perempuan itu. Jujur, aku sangat iri dengannya. Jelaskan padaku, apa kelebihan dia sehingga kau bisa menyatakan cinta pada dia? Mengapa hatimu bisa jatuh secepat itu padanya? Kamu ‘kan lebih dulu mengenalku. Mengapa kamu tak jatuh hati padaku saja? Aku pasti menangkapnya kok. Tak usah kamu menunggu ditangkap oleh perempuanmu itu.

Aku tak suka kekasihmu itu. Dia mengalihkan senyumanmu. Dia mencuri tatapanmu. Dia menghilangkan sepotong cerita di pojok parkiran. Padahal aku sudah merangkai aksara menjadi cerita sederhana antara kamu dan aku. Yang selalu menyemogakan tertulis atas nama ‘kita’. Namun kini ‘kita’ tak akan pernah nyata. ‘Kita’ akan tetap abadi dalam cerita. Cerita sederhana dalam balutan rindu. Rindu yang hanya aku yang merasa.

Nampaknya melihatmu dengan kekasihmu ‘jalan bareng’ akan menjadi pemandanganku setiap hari, setiap pagi hingga pulang sekolah. Seharusnya itu aku. Seharusnya aku yang menggenggam tanganmu. Seharusnya aku yang membuatmu tertawa. Seharusnya aku yang menjadi satu-satunya alasanmu menunggu di seberang parkiran.

Kenyataannya semua hanya imajinasiku. Harapku terlalu tinggi untuk menjadi yang kau miliki. Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan hari telah menemukan yang baru.

Jam berganti hari, hari berganti minggu, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sungguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Aku pernah mencintai dengan terlalu, membuatnya menjadi segalaku. Namun akhirnya, waktu membuatmu menjadi masa lalu. Wangimu memudar bersama angin musim. Membuat segalamu padam karena rintik hujan.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu.

Dan mulai kusadari, berpura-pura tidak tertarik lagi bertemu denganmu, tak kusangka menjadi sesulit ini

dari pemujamu,
yang tetap menyayangimu dalam diam dan tulisan

Kamis, 13 Oktober 2016 
Parkiran Saba Bercerita

Selasa, 11 Oktober 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Perkenalan yang Tertunda"


Saba Muscomp vol 5 menjadi saksi, kali pertama aku jumpa dengan sosok dirinya. Saba muscomp atau saba music competition adalah kompetisi band antar sekolah dengan bintang tamu grup band yang kebanyakan beraliran ska. Awalnya aku sama sekali tak berminat dengan acara itu. aku datang hanya untuk melihat mantan kekasihku disana. Ya, hanya untuk menyenangkannya. Mantan kekasihku itu memang sangat menyukai band aliran ska. Dia yang memperkenalkanku dengan musik yang identik dengan moshing, berdansa atau berdanska yang sering dia sebut sebut itu. entahlah.
Aku datang ditemani seorang sahabatku. Salma. Dia memang baik hati, padahal sebelumnya dia tak pernah mengenal acara apa itu. Dia tidak menolak untuk menemaniku hanya sekadar menyenangkan mantan kekasihku. Namun teganya mantan kekasihku itu. Aku sudah berusaha datang untuk dirinya dan namun dia tak mau menemuiku. Dia lebih memilih bersama teman-teman komunitasnya. Yasudahlah namanya juga mantan, tak bisa jadi yang diutamakan. Aku dan Salma memutuskan untuk mencari tempat berlindung dari teriknya matahari di siang hari. Di pinggir lapangan saba, di bawah pohon cemara.
Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki berbadan tidak terlalu jangkung mengenakan kaus berwarna hitam, dengan celana jeans berwarna krem dan sepatu converse hitam datang menghampiri tempat kami berteduh. Rupanya ia tengah mencari tempat untuk berteduh juga. Ia duduk tak jauh dariku dan sahabatku. Ternyata laki-laki itu adalah teman masa kecil Salma. Mereka asyik sekali berbincang-bincang. Sampai aku tak sempat dikenalkan pada laki-laki itu. sebenarnya sedari awal aku sudah memperhatikan laki-laki itu. dari cara ia bicara, bercerita dan berhumor pun aku perhatikan. Aku sengaja tak mengubah posisi dudukku yang sedikit membelakanginya, agar ia tetap tak sadar jika mataku mengarah padanya. Dia sesekali menengok ke arahku, namun seketika ku alihkan pandanganku berpura-pura tidak tahu menahu. Meskipun begitu, sesekali mata ini tetap ku biarkan bertemu dalam tatapan kecil dengannya.
Kurasakan ada yang beda saat dia datang. Hatiku tak karuan. Jantungku berdegup kebih kencang. Ada sesuatu yang menggusarkan hati saat ia pergi. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Secepat ini aku jatuh hati? Pada pria yang sebelumnya belum pernah kutemui. Aku tidak yakin. tetapi tak bisa di pungkiri, ia memang tampan. Meskipun berbaju hitam dengan kulit tubuhnya yang hitam (namun manis) ia tetap menawan.
“Dia siapa? Namanya siapa? Kok kamu kenal?” tanyaku pada Salma setelah kepergian laki-laki itu.
“Rafli namanya. Temanku sewaktu SD hingga SMP. Dia itu saudaranya mantan kekasihku, Rizky itu loh yang pernah kuceritakan padamu”
“Oh....” balasku dengan membulatkan mulut
“Dia kelas apa? Kok aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?” lanjutku
“IPS 5”
“Nama lengkapnya siapa?”
“Aduh siapa ya. Aku lupa nama lengkapnya. Pokoknya ada  A A siapa gitu”
“Yah.. kok lupa sih” jawabku manyun
“Memangnya ada apa? Kamu menyukainya? Wah Marsha ciee...” ledek Salma
“Ih apaan sih. Tidak kok. Aku hanya kagum saja. Dia kecil item tapi manis ya hehe. Eh keceplosan deh”
Dengan sigap ku tutup mulutku setelah menyadari aku sudah mengungkapkan apa yang aku rasakan sedari awal laki-laki itu datang.
“Ciee keceplosan. Bagaimana? Apa mau ku kenalkan kau padanya? Kamu percaya tidak, dia itu tidak pernah pacaran loh sebelumnya”
“Masak sih?”
“Iya beneran. Rafli itu orangnya polos banget, aku dengar katanya dia tidak pernah menyatakan cinta pada seorang perempuan. Dia juga anak gamers seperti sepupunya, Rizky. Hmm aku baper lagi kan”
“Aduh Salma penyakit bapernya kambuh lagi deh.”
“Rafli tidak pernah pacaran? Tidak pernah nembak cewek? Apa iya? Padahal dia tampan dan juga keren. Hmm aku jadi penasaran sama dia” fikirku dalam hati
Hari terus berganti. Seminggu. Dua minggu. Satu bulan. Dua bulan. Aku sudah tak lagi mempunyai hubungan dengan mantan kekasihku. Sudah satu bulan aku dan dia tak pernah berkomunikasi karena dia sudah mempunyai kekasih baru. Akupun sudah benar-benar move on dari mantan kekasihku itu.
Suatu hari aku tiba-tiba teringat dengan sesosok pria di acara muscomp beberapa bulan lalu. Aku kembali penasaran dengan Rafli. Bagaimana dia sebenarnya? Ternyata rasa ingin tahuku berkepanjangan. Aku menceritakan ini kepada Salma, sahabatku. Dia menawarkan pin bbm Rafli padaku. Namun aku menolaknya, dengan alasan “Masak cewek invite duluan sih.” Aku masih gengsi dan terlalu takut memulai perkenalan itu.
Pagi itu aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku tak tahu mengapa aku ingin berangkat pagi. Aku memarkirkan beat hitamku di tempat parkir yang menghadap timur. Dari tempatku berdiri, aku melihat seorang pria mengenakan jaket jamper berwarna biru dongker sedang memarkirkan motornya juga. Rasanya tak asing dengan wajah tersebut. Dan ternyata benar, dia adalah Rafli. Laki-laki di acara muscomp waktu itu. aku senang sekali dapat bertemu dengan dia pagi ini di parkiran sekolah.
‘Kok aku merasa senang sekali ya bertemu dengan dia. Padahal kan aku tidak kenal sama dia. Hanya tau namanya saja. Tapi tadi dia terlihat keren sekali dengan jaketnya.’ ‘Ah apa iya aku menyukainya? Secepat ini? Pada pandangan pertama? Ah sial’
Tanyaku dalam hati yang entah mengapa terus memikirkan laki-laki itu dan memutar ingatan beberapa bulan lalu saat jumpa pertama kami di muscomp. Jatuh cinta katanya butuh proses yang panjang. Tetapi mengapa ini secepat kilat. Ah mungkin ini bukan jatuh cinta. Mungkin ini hanya rasa suka biasa. Namun rasa ingin tahu ku tentang dirinya semakin besar. Aku ingin mengenalnya. Benar-benar mengenal bukan hanya tau nama saja. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Salma.
“Salma....” panggilku manja seperti anak TK yang sedang merengek minta mainan
“Iyaaa...” jawab Salma tak kalah manja
“Ih sok imut deh”
“Emang imut”
“Salma apaan sih tidak lucu tau”
“Memangnya siapa yang melawak? Aku kan bukan pelawak” jawabnya santai
“Iya deh terserah kamu. Tapi tetap saja kamu sama aku jelas imut aku. Kan tuaan kamu dari aku wlek.”
“Eitsss jangan bawa umur yaaaa orang cuma beda satu bulan saja kok huu”
“Sudah deh! Aku kesini bukan mau debat masalah umur sama kamu hffff”
“Lalu? Eh bentar dulu! Pasti ini ada maunya. Datang-datang manggil-manggil sok manja gitu”
“Emang! Hehe”
“Ada apa cintaku sayangku manisku manjaku, teman ‘utak-utukku’?”
“Kamu masih punya pin bbm-nya Rafli apa tidak?”
“Masih. Mengapa memangnya?”
“Mau minta dong.....” pintaku dengan wajah memelas
“Katanya kemarin tidak mau. Katanya masak cewek duluan yang invite. Katanya gengsi. Katanya....”
“Sekarang sudah tidak! Aku semakin penasaran. Daripada aku mati penasaran sebelum kenal sama dia lebih baik aku terima saja tawaran kamu kemarin, Ma. Please... boleh ya ya”
“Oh gitu. Gimana yaaa kasih tidak ya”
“Ayolah! Salma kan cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung.”
“Yee kamu memuji kalau ada maunya saja. Nih cari saja sendiri dikontak bbmku” kata Salma yang akhirnya hatinya luluh dan meminjami aku ponselnya.
Aku mengetik nama dia di layar ponsel Salma. R A F . Baru sampai huruf ke tiga ternyata namanya sudah muncul di layar ponsel Salma. Dengan cepat aku membuka profil bbmnya dan mencari pinnya. Hatiku tak karuan. Masih ada sedikit keraguan untuk meng-invite dia. Tapi....
“Ah kelamaan. Sini hpku kalau tidak jadi” suara Salma mengagetkanku yang tengah melamun
“Eh eh iya iya ini juga mau invite kok.”
“Nah gitu kan bagus dari kemarin. Sekarang, tinggal tunggu Rafli acc deh”
“Kok aku jadi deg-degan begini ya, Ma. Nanti kalau aku sudah di invite aku harus bagaimana?”
“Ya kamu chat dia dong. Katanya mau kenal lebih dalam lagi sama dia.”
“Iya sih. Tapi nanti kalau dia tidak meresponku bagaimana? Kalau nanti dia tidak acc pin aku bagaimana? Kalau nanti dia...”
“Sudah deh, Sha. Kamu tuh terlalu banyak berfikiran negatif. Positif thingking saja. Dijalani saja dulu. Dia orangnya baik kok. Aku yakin dia pasti mau kenalan sama kamu”
“Amin... makasih Salmaku cintaku sayangku teman ‘utak-utukku’. Salma memang terbaik muahhh”
Aku memeluk Salma dengan sangat erat. Yang aku peluk nampaknya merasa risih dengan tingkahku ini. Biar saja, karena aku merasa sangat senang sekali bisa dapat dukungan dari sahabatku ini.
2 hari kemudian pada saat aku membuka bbmku, aku menemukan sebuah nama yang nampaknya tak asing bagiku. RAFLI. Aku  senang sekali. Ternyata pinku sudah di acc. Sekarang giliran mentalku yang diuji. Bagaimana caranya memberanikan diri untuk memulai perkenalan dengan seorang lelaki. Jujur aku takut. Namun jika bukan aku yang memulai, aku tidak akan pernah mengenal sosok lelaki itu. Ku kumpulkan semua nyali-nyaliku. Ku kerahkan semua untuk memulai percakapan di obrolan bbm.
“PING!!!”
Tak lama, Rafli membaca chat itu. hatiku sudah tidak menentu. Bagaimana ini? Dia jawab apa? Aku harus balas apa lagi? aku sungguh bingung.
“Iya. Ada apa?” balasan singkat Rafli
“Intro” balasku langsung to the point dengan segala nyali yang tersisa
“Rafli. Kelas 11 Ips 5. Intro back”
Aku memperkenalkan diriku. Obrolan itu berlanjut hingga malam hari. Sifat humorisnya memang benar-benar membuat suasana yang awalnya dingin menjadi lebih hangat dengan candaannya. Aku terhanyut dengan banyolan konyol yang ia ciptakan. Hingga aku tak sempat bertanya lebih banyak mengenai dirinya. Biarlah. Yang penting aku sudah berhasil berkenalan dengan dia. Senang sekali rasanya. Kalau tak ada muscomp waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok laki-laki yang tak terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang membuat penasaran.

Berawal dari tatap
Indah senyummu memikat
Memikat hatiku yang hampa lara

Ya, aku membuatnya hadir dikehidupanku setelah kepergian mantan kekasihku.
Apakah dia sebagai pelarianmu?
Bukan! Sama sekali aku tak berniat seperti itu. Aku sungguh ingin mengenalnya. Menjadi temannya. Namun aku sama sekali tak mencegah hatiku untuk jatuh hati padanya. Pada semua yang aku kagumi tentang dirinya.
Mengapa hatimu bisa jatuh cinta secepat ini?
Tidak! Aku belum benar-benar jatuh cinta padanya. Aku hanya menyukai dan mengagumi paras pun sifatnya.
Bagaimana jika nantinya kau akan jatuh hati padanya?
Biarkanlah. Hati siapa yang tau. Hati tak bisa memilih pada siapa ia akan jatuh.
Bagaimana jika kau jatuh hati sedangkan ia tidak?
Tidak apa-apa. Cinta ‘kan tak harus memiliki. Setidaknya biarlah aku terus mengaguminya dalam diam, meskipun aku tau perasaan ini nantinya tak terbalaskan dan mungkin salah.