Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Kamis, 29 September 2016

Jika Bahagiamu Diya. Aku Bisa Apa :')

Bagai hati terbelah dua. Retak. Patah. Hancur berkeping-keping. Aku tak pernah menyangka akan sesakit ini menyayangi diam-diam. Atau hanya karena aku yang terlalu berharap lebih. Tak akan kuberharap lebih jika dia tak seperti memberi harap. Nyatanya ada sedikit harap yang pernah ia berikan, sehingga sakitku hingga seperti ini.

Ada sedikit sesal yang kurasa. Mengapa dulu aku tak berterus terang kepadanya. Mengungkapkan semua yang ada dihati, begitu indah namanya terukir sejak setahun lalu. Sebelum ada seseorang yang berhasil meluluhkan hatinya, yang berhasil diajaknya kencan. Hanya aku takut berbagai resiko yang kan ku alami setelah dia tahu semua rasa yang ada. Toh tak ada yang menjanjikan jika aku sudah ungkapkan semua dia akan benar-benar menjadi milikku. Atau justru dia akan pergi menjauh dan tak kembali. Aku terlalu takut menyambut resiko-resiko itu.

Kini aku benar-benar menyesal. Semua sesalku karena andai. Andai nyaliku besar. Andai aku mampu bicara. Andai aku bisa jujur. Andai hanya andaian kata. Sekarang benar aku tak dapat berbuat apa lagi. kenyataan yang ada dia sudah memilih wanita yang menjadi pilihannya. Dia sudah tak anggap aku teman dekat lagi. begitu cepat ia jatuh hati dengan wanita itu. Sedangkan aku yang menunggunya lebih dari satu tahun tak sedikitpun ditengok. Aku yakin dia sadar akan rasaku, namun dia saja yang tak ada rasa. Lalu, apa maksud dari semua sapaan yang kau beri, apa maksud dari semua tatapan yang pernah kau tujukan untukku, di parkiran sekolah itu menjadi saksi. Begitu kau seperti memberi harapan. Begitu kau membuatku terbang tinggi. Hingga harapku setinggi ini padamu. Ku kira semua itu balasan untuk rasaku, atau hanya aku yang terlalu percaya diri. Entahlah.

Kau pernah menerbangkan dan kini menjatuhkan secara acuh. Tak memberi salam apapun kau pergi dengan wanita lain. Tanpa pamit tanpa permisi. Apa kau tahu bagaimana rapuhnya aku? Sesak sekali dada ini kala mengingat kejadian masa itu. Acuhnya kau dihadapanku, seperti tak pernah mengenal. Ternyata sedang menunggu wanitamu. Kau tak sopan tak membalas sapaan. Lebih memilih wanitamu yang baru kau kenal tak lebih lama dariku.

Kenyataannya kau dan dia benar akan bersatu. Dia yang selalu ada untukmu. Dia yang lebih cantik parasnya. Dia yang berhasil meluluhkan dinginnya hati seorang gamers sepertimu. Aku disini hanya bisa menerima kenyataan yang ada, bahwasanya kau benar-benar bukan milikku untuk kesekian kalinya. Banyak wanita yang pernah dikabarkan menjalin hubungan denganmu. Namun aku tetap setia menunggumu. Aku meyakini bahwa mereka hanya kicauan semata. Aku tetap setia, dulu. Dan sekarang, aku melihat dengan mata kepala juga mata hatiku sendiri jika kau bersama wanita yang baru. Sepertinya ini jawaban atas doaku malam itu. Tuhan menjauhkan kita dengan cara seperti ini. Mengharuskanku pergi dari hidupmu, sepertinya. Menyelamatkanku dari perihnya menyayangi diam-diam. Membangunkanku dari lamanya menunggu sesuatu yang tak pasti. Intinya tuhan ingin aku tak berharap lebih tentangmu, tentang kita.

Berat melepasmu. Sulit untuk pergi. Sayangku sepertinya sudah tak main-main. Padahal aku tahu jika tak boleh sesayang ini dengan sesuatu yang belum pasti. Namun aku tetap menyayangimu lebih. Bagaimana aku bisa melepasmu yang sudah setahun terikat dihati. Bagaimana aku membiarkanmu pergi dengan wanita lain padahal aku yang lebih dulu mengenalmu. Menunggumu kembali atau menunggu melupakanmu. Hanya itu pilihanku sekarang. Namun nyatanya aku tak dapat memilih. Karena sejujurnya aku akan meminta kau kembali denganku sekarang juga. Meskipun mustahil.

Siap tak siap aku harus melepasmu dengan wanita pilihanmu. Rasaku tak boleh egois. Cinta tak selamanya harus memiliki. Jika kau sudah memilih, jika bahagiamu adalah dia. Aku bisa apa.

“Karena level tertinggi mencintai adalah merelakan dia bahagia bersama orang lain"
"love is when the other person's happiness is more important than your own"