Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Selasa, 27 Desember 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Pemilik Ultramilk"

Aku masih tak percaya dengan peristiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi berkenalan dengan dia katanya. He he
Semoga ada hari-hari pertama selanjutnya....
~~~
Matahari perlahan turun, bulan bergantian naik-naik ke puncak langit bukan gunung. Bintang-bintang berjajar membentuk rasi yang bermacam-macam. Malam ini langit begitu indah dengan taburan meses dipermukaannya. Bukan, itu bintang. Malam ini begitu indah. Ditambah dengan ponselku yang ramai dengan pesan-pesan singkat dari Rafli. Malam ini aku yang memulai obrolan via bbm. Aku heran, nyaliku besar juga. Aku yang orangnya tidak suka menunggu jadi suka menunggu, menunggu balasan pesan singkat dari Rafli. Hanya itu hal menunggu yang kusuka. Tidak pernah ada obrolan serius malam itu. Semua penuh dengan canda karena memang sifat Rafli yang humoris. Setiap kali aku ingin bertanya perihal kehidupan pribadinya, selalu kuurungkan. Aku khawatir jika obrolan itu kualihkan akan merusak suasana yang membuat Rafli jadi tidak nyaman. Padahal aku ingin sekali mengenal dia lebih jauh. Tapi jangan kejauhan nanti tersesat kerumah orang.
Ditengah-tengah chat via bbmku dengan Rafli, tiba-tiba Rafli mengirim sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah acara berita ditelevisi yang difoto. Mungkin Rafli yang melakukan atau siapa aku tidak sempat bertanya. Rafli mengirim gambar itu dengan disertai tulisan “Marsha, tahu tidak ada anak yang bernama D?”.
“Memang ada? Aku tidak tahu Rafli.” Balasku.
“Iya ada tadi waktu aku melihat berita di tv. Aneh ya.” Jawab Rafli “Besok kalau kamu punya anak, mau kau beri nama siapa?”
“Belum tahu. Tak pernah berfikir sampai segitu.”
“Kalau aku punya anak nanti, mau kuberi nama Cecep.”
“Hahaha. Kenapa?” kutanya Rafli
“Kamu tahu sinetron Cecep yang diperankan Anjasmara dulu?” Tanya Rafli. “Tapi aku lupa judulnya apa soalnya sudah lama”
“Iya aku ingat Rafli. Oh anak kamu, kamu beri nama Cecep biar tampan seperti Anjasmara?”
“Bukan. Biar dia punya teman Alien dan bisa naik pesawat Ufo”
Aku tertawa membaca balasan dari Rafli. Aku suka suasana seperti ini. Selalu ada hal-hal yang dia buat lelucon. Meskipun terkadang garing semacam jamur crispy yang biasa Salma bawa kesekolah. Tetapi tetap kusuka.
Tiba-tiba ada pesan masuk di grup bbm. Rupanya dari grup Marching Band yang mengabarkan bahwa besok sepulang sekolah ada latihan untuk persiapan mengiringi upacara HUT PGRI. Ternyata tak hanya mengiri upacara, kami juga harus memberi persembahan di depan bupati dan para tamu undangan setelah upacara selesai dengan beberapa lagu andalan tim Marching Band Sabaku. Begitu biasa disebut. Sebuah kebanggan tersendiri dapat menjadi bagian dari tim Marching Band Sabaku. Aku telah bergabung sejak awal masuk SMA. Entah mengapa ekstrakulikuler ini yang kupilih. Intinya banyak pengalaman yang kudapat disini.
“PING!!! PING!!! PING!!!”
Tiga kali tulisan PING!!! khas bbm kulihat muncul di notif ponselku. Ku pikir siapa ternyata Rafli.
“Iya Rafli ada apa?”
“Kemana saja? Lama sekali balasnya.”
“Maaf tadi baru baca pengumuman di grup MBS.”
“Ada apa memang?” tanya Rafli yang mungkin agar tidak tersesat karena malu bertanya itu sesat dijalan.
“Oh itu besok ada latihan untuk persiapan upacara HUT PGRI di Kabupaten.” Jawabku dengan jujur karena bohong itu dosa.
“Jam berapa?”
“Pulang sekolah. Biasa mulai sih jam 3.”
“Ya sudah tidur yuk. Sudah larut.”
“Yuk. Btw, ucapin mau tidak?” aku sedikit menggoda Rafli
“Maksudnya?”
“Selamat malam, Rafli.”
Untuk pertama kalinya, ucapan itu untuk Rafli. Semoga saja Rafli tidak berpikir sampai kemana-mana takut nyasar. Aku tak berharap banyak Rafli akan membalas ucapanku tersebut. Setidaknya aku sudah senang mengucapkannya meskipun awalnya ragu. Namun ternyata...
“Selamat malam juga, Marsha. Mimpi indah.”
Rafli membalasnya dengan sangat indah. Untuk kamu yang sedang menyukai seseorang dan dia melakukan itu padamu, aku dapat menjamin perasaanmu sedang aku rasakan sekarang. Maklumilah untuk orang yang sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tak membalas lagi obrolan itu. Biarlah dia kira aku sudah terbang ke alam mimpi padahal belum. Aku memang terbang, terbang karena ucapanmu, Raf. Mimpiku pasti indah malam ini.
~~~
Pagiku indah hari ini serasa ada semangat baru untuk memintaku datang lebih awal kesekolah. Kukendarai honda beat hitam ku sampai sekolah. Nampaknya beat hitamku tetap menginginkan singgasana yang sama. Tetapi tak kujumpai motor matic merah yang tak bisa kusebut mereknya disana. Sepertinya sang pengendara belum sampai, atau memang aku yang terlalu pagi. Hff kutarik nafas panjangku mencoba menikmati udara pagi di tempat ini, pinggir lapangan hijau sekolah.
~~~
Tidak terasa tujuh setengah jam kulalui dengan setumpukan buku-buku beserta masing-masing guru pengampu yang telaten memberi ilmu-ilmu kepada muridnya yang tak pernah jemu untuk menjadi sukses di masa depan sebagai generasi penerus bangsa. Lagu “Terimakasih Guruku” berkumandang begitu lantang mewakili perasaan pendengarnya yang ingin cepat pulang karena lapar mungkin.
Kemudian aku keluar kelas dan segera menuju kamar mandi. Hendak ganti baju untuk latihan marching band sore ini. Usai ganti baju aku menuju singgasana beat hitamku menunggu untuk menitipkan seragamku kepadanya. Aku terkejut tapi sedikit saat mendapati seseorang duduk diatas penungguku. Maksudku sepeda motor beat hitamku.
“Hey kamu mengapa ada disini?” tanyaku kepada penunggu itu.
“Menunggu tempat parkir ini sepi.” Jawabnya
“Harus ya duduk diatas motorku? Motormu mana?” tanyaku sedikit seperti marah padahal tidak
“Aku tidak punya motor.” Jawabnya santai.
“Lalu kau berangkat sekolah naik apa?”
“Mengendarai kuda supaya baik jalannya”
“Hahaha. Serius?”
“Tidak punya kuda aku mah.”
“Terus tadi katanya.”
“Itu menyanyi saja”
“Hahaha”
“Padahal sudah kubayangkan ada siswa berangkat sekolah naik kuda.”
“Gimana bayanginnya?”
“Ya bayangkan saja.”
“Jangan bayangkan kuda. Bayangkan aku saja. Tampanan aku dari kuda kok.”
“Hahaha.”
“Hey katanya kamu ada latihan marching sore ini? Kok disini?” tanya seseorang yang sedari tadi telah bicara denganku.
Ya, dia Rafli yang sepertinya sengaja menungguku atau aku yang terlalu berharap. Aku tak tahu. Biarkan aku senang berkhayal.
“Iya, mau naruh ini di motor.” Kujawab sambil memperlihatkan tas yang kutenteng yang berisi seragam.
“Oh iya, tadi aku beli susu ultramilk. Niatnya sih beli 1, berhubung di kantin tidak ada kembalian, ya sudah kembaliannya aku belikan minum lagi. Terus ‘kan tidak mungkin aku minum keduanya, bisa kembung perut aku. Ini yang satu buat kamu saja. Sekalian biar kamu cepat gede, harus minum susu. Hahaha” Kata Rafli panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume sambil memberikan minum itu kepadaku.
“Ini benar buat aku? Ahh kamu tahu saja aku lagi haus. Susu ultramilk lagi. Kau tahu tidak, ini minuman kesukaan aku. Kalau tidak tahu, baru saja kau ku kasih tahu. Hehe terimakasih Rafli” Jawabku sumringah kemudian meminum minuman dari Rafli.
“Alhamdulillah kalau kamu menyukainya.”
“Eh tapi ini dingin ya.”
“Iya. Kamu tidak suka dingin?”
“Aku suka. Tapi tidak boleh sama pelatihku. Katanya sebelum latihan atau selama latihan jangan minum minuman yang dingin.”
“Kok gitu?”
“Iya katanya gak bagus buat tenggorokan soalnya aku pegang alat tiup dan meniup harus pakai tenggorokan maupun kerongkongan, kan. Tapi tidak apa-apa deh. Sekali ini saja bandel hahaha.”
“Oh gitu eh maaf deh tidak tahu aku,”
“Tidak apa-apa Rafli. Ini juga sudah tidak terlalu dingin kok.” Jawabku. “Tenang saja.”
Kamu tahu selama aku meminum susu ultramilk pemberian Rafli, aku tak berhenti dari bahagia yang sedang kurasa. Seperti aku mimpi padahal tidak. Itu susu ultramilk pertama dari Rafli. Semoga ada untuk selanjutnya...
10 menit yang lalu aku dapat pesan dari teman yang biasa berangkat latihan Marching Band bersamaku, Dinda. Dia memintaku untuk menunggunya di parkiran sekolah karena dia sedang ada urusan diluar sekolah. Akhirnya aku di tempat parkir ini –lagi- berdua saja bersama Rafli. Suasananya hening. Diantara kami tak ada yang memulai percakapan. Aku pun takut dan salah tingkah disini.
“Marsha, kamu di Marching Band pegang alat tiup apa?” Rafli bertanya seperti memecah keheningan diantara kami.
“Aku pegang terumpet.” Jawabku
“Tidak capek apa niup terus begitu?” nampaknya Rafli mulai serius.
“Ya bagaimana ya. Capek pasti ya ada. Apalagi jika bermain parade. Harus berjalan kaki terus sambil meniup terumpet bermain banyak lagu. Tapi kalau sudah suka, secapek apapun ya tetap asik. Dijalani saja”
“Oo begitu. Btw, besok kamu upacaranya dimana? jam berapa? Selesai jam berapa?”
“Belum tahu dimananya. Kalau tidak di alun-alun ya di pendopo kabupaten. Mulainya ya seperti upacara pada umumnya. Kembali ke sekolah biasanya jam 9 atau 10” Jelasku panjang lebar. “Eh itu Dinda sudah kembali. Rafli, aku mau latihan dulu ya. Mau pulang apa masih disini menunggu tukang bakpau?”
“Hahaha. Mau disini tapi bukan menunggu tukang bakpau?”
“Menunggu siapa lagi?”
“Menunggu yang lagi latihan”
Aku diam mendengar perkataan Rafli. Namun sekejap dibuyarkan dengan suara tertawanya.
“Hahahaha. Aku mau pulang Marsha. Semangat latihan ya.”
“Hehe terimakasih. Hati-hati pulangnya, Raf.”
Aku berlalu dari Rafli kemudian menuju tempat dimana aku biasa latihan Marching Band. Yang pasti kali ini bukan tempat parkir. Aku masih terbayang dengan apa yang Rafli katakan. Aku senang Rafli jika kamu seperti itu seterusnya kepadaku.
~~~
Jarum jam menunjukkan pukul lima. Latihan usai dan aku segera pulang. Saat sampai di tempat motorku parkir, ku dapati ada susu ultramilk diatas motorku.

“Ini kan ultramilknya Rafli. Jadi, tadi dia tidak meminum ultramilknya karena akan diberikan kepadaku lagi. Terimakasih Rafli untuk susu ultramilk yang kedua kali. Kau hilangkan lagi rasa hausku disenja ini, beserta capeknya” Gumamku.

Selasa, 20 Desember 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Dari Pojok Parkiran"

Kalau tak ada muscomp waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok laki-laki yang tak terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang membuat penasaran.
Sekarang aku sudah kenal Rafli. Rafli juga sudah kenal Marsha. Aku berharap dapat berteman baik dengan dia. Entah kalau aku jadi suka. Semenjak aku bertemu di Muscomp waktu itu, dan aku sudah kenal dia sekarang, aku jadi sering sekali bertemu dia di sekolah. Entah itu di kantin waktu istirahat, di musholla waktu sholat zuhur, di parkiran waktu pulang sekolah ataupun berangkat sekolah. Seolah-olah aku ditakdirkan kenal dia dulu baru bertemu kemudian. Pasalnya, sebelum aku kenal Rafli, aku tak pernah tau Rafli teman satu angkatan. Mungkin aku pernah bertemu, hanya saja aku tak menyadari jika itu Rafli. Sudahlah. Yang penting kita sudah kenal, meskipun via bbm.
~~~
Hari ini adalah hari dimana banyak siswa tak terlalu menyukainya. Hari dimana hari libur mereka dihentikan secara paksa. Hari dimana harus datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya untuk berdiri ditengah lapangan bersama-sama. Namun untuk kali ini aku tak setuju dengan pendapat mereka. Tapi dulu iya. Besok-besok tidak tahu lagi. Hari ini hari yang sangat kutunggu untuk mengakhiri hari liburku yang hanya di rumah. Agar aku dapat kembali ke sekolah untuk bertemu kawan-kawan dan dia. He he
Hari ini aku tak tahu mengapa aku semangat sekali datang ke sekolah. Hari-hari sebelumnya juga semangat, tetapi tak sesemangat Senin kali ini. Saking semangatnya, aku berangkat lebih pagi dari jam berangkat sekolahku biasanya. Bukan lebih lagi, sangat. Aku mengendarai sepedaku yang bermesin dengan kecepatan sedang sambil bernyanyi-nyanyi dan senyum-senyum sendiri. Aku tahu aku sedikit lebay. Tapi jika kau merasakan hal yang sama sepertiku, kau pasti akan melakukannya. Lima belas menit kemudian aku telah sampai di gerbang sekolah. Sekolahku mengharuskan siswanya turun dari kendaraan mereka, untuk menuntunnya sampai gerbang tempat parkir. Sedari turun dari sepeda bermesinku, aku melihat sosok penampakan. Eh bukan, sosok lelaki maksudku tengah duduk di atas sepeda motornya sambil bermain ponsel. Entah miliknya atau pinjam, urusan dia. Sudah kuhafal dia pasti Rafli. Di pojok parkiran, sendirian. Seperti hari-hari sebelumnya.
Sekolah masih nampak sepi karena jarum panjang jam belum menunjuk angka 9 dan jarum pendek menunjuk antara angka 6 dan 7. Syukurlah. Bisa kupastikan tempat parkir masih banyak yang kosong sehingga aku leluasa memilih. Kuputuskan menempatkan sepeda motorku tak jauh dari tempat Rafli memarkir kendaraannya. Kumaksudkan agar pulang sekolah nanti aku dapat melihatnya lagi ditempat yang sama. Pojok parkiran sekolah.
Usai kuparkirkan sepeda motorku dengan rapi, aku berjalan menuju kelasku. Aku memilih lewat jalan sebelah selatan, padahal ada jalan lain disebelah utara yang lebih dekat untuk menuju kelasku. Tak apa. Aku suka. Karena jalan itu, membuat aku bisa melihat Rafli jauh lebih dekat. Dengan maksud lain, kalau aku lewat dia turut mengikuti untuk jalan bersama. He he. Tetapi dia tidak melakukan. Melihatku pun tidak, apalagi menyapa. Dia masih tertunduk fokus dengan ponselnya. Aku sedikit kecewa. Tapi kupendam saja. Ada hak apa aku meminta kamu menyapaku. Tapi kan kita sudah kenal, Raf. Mengapa kamu tak menyapa. Setidaknya melihatku untuk sekedar tersenyum sedikit saja. Seperti itupun aku sudah senang. Kamu sebenarnya suka berteman denganku apa tidak. Mengapa sikapmu tak menunjukkan rasa senang. Aku kecewa, Raf. Semoga besok-besok aku kamu tidak melakukannya lagi.
~~~
“Salmaaaa!!!!!” teriakku sesampainya aku dikelas.
Untungnya dikelas hanya ada Salma yang memang biasa berangkat pagi. Sedangkan kawan-kawan lain tak ada. Mereka lebih suka berangkat siang. Katanya untuk apa berangkat pagi kalau sedang tidak ada pr atau tugas. Jadi tidak ada yang mendengar teriakanku selain Salma. Percaya deh, dia memang pendengar setia. Sampai kupingnya gatal mungkin.
“Ada apa Marsha??  Berisik!!” Jawab Marsha. “Untung kamu sahabatku, kalau tidak hmmm”
“Kalau tidak kau mau apa memangnya. Mau tidak kuantar pulang kau Ma” Kataku sambil menaik-naikkan alisku pertanda menggoda
“Itu pertanyaan?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Ancaman”
“ha ha ha”
“Ada yang lucu?” tanyaku melihat Salma yang tertawa
“Tidak.”
“Mengapa kau tertawa?”
“Ancaman macam apa itu.” Jawab Salma sambil menoyor kepalaku. “Sama sekali ku tak merasa kau ancam Marsha.”
“He he he”
“Anak kecil belaga mau mengancam anak gede. Sudah berani rupanya”
“Siapa bilang aku kecil. Sudah besar kok”
“Mana coba lihat”
“Nih nih lihat” kataku sambil berjinjit agar nampak tinggi. Namun gagal. Lagi-lagi Salma ketawa.
“Sudah sudah. Jangan sok tinggi kamu. Kalau kamu kecil ya kecil saja, jodohmu juga sama yang tidak tinggi-tinggi amat. Kecil juga boleh. Ha ha ha”
“Sebentar kamu bilang apa? Jodohku sama yang tidak tinggi-tinggi amat? Rafli tidak terlalu tinggi. Berarti kita boleh berjodoh dong. Asikkkk” tanyaku kegirangan
“Kamu suka sama Rafli beneran, Sha?” Tanya Salma sedikit serius
“Menurutmu?”
“Anak kecil jatuh cinta nih” ledek Salma
“Belum kok. Tapi tidak tahu kalau besok-besok”
“Memangnya mengapa”
            Aku menceritakan semua yang terjadi tadi pagi. Secara runtut mulai aku bangun tidur, terus sempat buang air pas mandi sampai dibuat kecewa Rafli. Kuceritakan semua. Nampaknya Salma tak bosan sebagai pendengar. Mungkin karena dia juga hobi membaca novel.
            “Kok aneh ya si Rafli itu. biasanya, denganku dia tidak begitu. Rafli kalau ketemu aku, dia selalu nyapa kok senyum juga. Mengapa sama kamu tidak ya padahal sudah kenalan meskipun belum langsung” kata Salma heran.
            “Bagaimana kalau kamu yang memulai dulu. Mungkin dia malu” tambah Salma
            Akupun berfikir seperti itu. Setelah kejadian tadi pagi, melihat sikap Rafli yang dingin denganku. Sepertinya aku yang harus memulai. Mungkin benar kata Salma. Mungkin dia malu. Aku memutuskan untuk mengajaknya bicara nanti sepulang sekolah.
~~~
Bel sekolah berbunyi. Murid tidur berdiri. Bukan. Mana bisa. Tapi silakan kalau mau. Lupakan. Kawan-kawan mengemasi barang-barang. Bergegas keluar ruangan. Karena sudah suntuk tujuh jam belajar. Ingin segera pulang. Bertemu ibu tercinta. Kemudian makan siang bersama. Kalau belum.
Niatku ingin segera pulang kuurungkan untuk menunggu Rafli di parkiran. Dia datang bersama seorang kawan satu kelasnya. Sampai diparkiran, kawannya izin pulang duluan, membuat Rafli sendirian dipojok parkiran. Masih sama. Dengan harap-harap cemas kuhampiri dia yang sedang mengenakan jaket. Dengan suara pelan kupanggil Rafli
“Raf”
“Iya” toleh Rafli yang baru saja selesai memakai jaketnya dari atas kepala. Jaketnya jamper. Kau tahulah bagaimana cara makainya.
“Aku Marsha.”
“Iya sudah tahu.” Jawabnya sedikit ketus
Aku merasa sikap Rafli dingin kepadaku. Beda dari Rafli yang pertama kutemui di acara Muscomp beberapa bulan lalu. Namun dari hati kecilku rasanya senang sekali bisa melihat Rafli begitu dekat. Ku dapat dari mana nyali ini. Berani sekali aku mendekatinya. Dia mengulurkan tangan seperti mengajak berjabatan. Aku masih dengan lamunanku dan tersadar saat Rafli menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahku.
“Aku Rafli.”
Dia mengulangi kalimatnya. Kemudian kembali mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku membalasnya karena sudah tidak melamun lagi.
“Tanda perkenalan. Biar resmi kita sudah kenal. Walaupun sudah kenalan di bbm.” kata Rafli.
“Eh iya iya resmi kenalan” kataku sedikit gugup karena bersalaman dengannya.
“Kamu kok masih disekolah? Tidak pulang?” Tanya Rafli.
“Ee.. tadi baru selesai mengerjakan tugas bersama temanku.” Aku sedikit berbohong. Aku tidak mau Rafli tahu kalau aku pulang terlambat karena menunggunya diparkiran sejak tadi.
            “Tidak bareng Salma?”
            “Eee... dia lagi ada ekskul tadi katanya” jawabku seadanya “kamu sendiri? Kok belum pulang?”
            “Iya. Kan lagi ngobrol sama kamu disini, jadi ya belum boleh pulang”
            “Ee.. ee.. maaf Rafli” kataku menunduk merasa bersalah.
            “Ha ha tidak Marsha, kamu tidak salah kok.” Ujar Rafli. “Lagi aku suka kok ngobrol sama kamu disini”
            “Apa? Kamu bilang apa tadi?
            Suara Rafli begitu pelan nyaris tak dapat kudengar. Mungkin fikirnya. Namun salah. Nyatanya aku mendengar jelas apa yang dia katakan. Sungguh aku bingung apa maksudnya? Dia suka ngobrol sama aku? Artinya dia.... Ah sudahlah jangan berperasangka berlebihan. Tidak baik. Tapi kau tahu, aku merasa senang dengan ucapan dia tadi.
            “Marsha ayo pulang. Sudah sore. Nanti dicariin om kamu”
            “Kok Om?” tanyaku heran.
            “Kalau ibu kamu kan sudah pasti nyariin. Mungkin om kamu mau nyari kamu juga”
            “Ha ha ha” aku tertawa mendengarnya. “Ya sudah kamu duluan saja. Aku mau mengambil sepeda motorku dulu disana”
            “Tidak. Aku mau nunggu kamu saja.”
            “Suka nunggu?”
            “Tidak.”
            “Kok mau menunggu aku?”
“Tidak enak meninggalkan perempuan di parkiran sendirian, apalagi dipojokan.”
            “Ha ha ha.”
“Sana ambil motor. Aku mau nunggu dulu.”
“Nunggu siapa?”
“Tukang bakpau.”
“Mau Beli?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Mau dengar lagunya”
“Ha ha ha.”
“Kamu bolehin aku menunggu tidak?” tanya Rafli. “Kalau tidak, aku mau tidur.”
“Ya terserah kamu kalau tidak repot.”
“Repot buat kamu tidak apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Sudah sana ambil sepeda motor kamu. Kalau sudah gelap, kamu tidak akan berani.”
“Berani kok. Kan sudah gede”
“Ha ha ha”
            Aku mengambil sepeda motorku yang tak jauh dari tempat parkir Rafli. Ku percepat langkahku agar Rafli tidak terlalu lama menunggu. Bergegas memakai helm dan masker karena rumahku cukup jauh dari sekolah. Banyak debu di jalan apalagi sore hari. Jamnya pegawai kantoran pulang kerja. Aku menganggukkan kepala mengisyaratkan siap, setelah selesai dengan segala kerepotanku. Kami keluar dari sekolah bersamaan. Ku harap tak ada yang melihat kami sejak di pojok parkiran tadi. Terutama kawanku satu kelas. Kami berpisah setelah keluar dari halaman sekolah karena arah rumah kami berbeda.
~~~
            Ku lajukan sepeda motor matic kesayanganku dengan kecepatan tinggi, hanya sebentar. Seolah-olah ingin memberitahu kepada pengendara lain bahwa sang empunya motor sedang kegirangan. Kukembalikan kecepatan motorku seperti biasa aku mengendarainya. Pelan-pelan namun pasti sampai rumah. Fikiranku terus ke Rafli. Aku sedikit heran dengan sikap dia hari ini. Tadi pagi, dia acuh sekali terhadapku. Padahal ku yakin dia melihatku saat itu. Berubah seratus delapan puluh derajat sore tadi. Kami mengobrol banyak. Layak teman akrab sudah kenal sejak lama, padahal baru saja. Karena baru dia resmikan.
Aku masih tak percaya denganperistiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi berkenalan dengan dia katanya. He he

Semoga ada hari-hari pertama selanjutnya....

Minggu, 18 Desember 2016

Dermagamu telah dilabuhi hingga bagiku kau hanyalah mimpi

Sebenarnya aku ingin menulis lagi tentangmu. Berkisah lagi. Melanjutkan cerita yang menurutku belum benar-benar usai. Mungkin, bagimu sudah. Aku ingin mendongeng lagi. Namun entah mengapa ada hal mengganjal seperti berniat ingin menyulitkan tangan mengetik. Fikiran berkutik. Hati berbisik. Padahal perasaan masih berfungsi baik.

Apa gerangan dengan kita? Eh masihkah boleh aku menyebut kita untuk aku dan kamu? Maaf jika tidak. Aku hanya masih bermimpi akan itu. Maaf jika lancang.

Sungguh aku ingin menulis untuk mengenang kamu yang pernah mengetik pesan singkat untukku. Sungguh ingin ku abadikan jika perasaanku ingin berlabuh di dermagamu. Meskipun banyak ombak menerjang perahuku yang tengah berlayar. Sebelum benar-benar berlabuh dengan tenang di dermagamu. Perahuku tak kuat menahan tingginya ombak yang terus menerus melawan. Hingga perahu lain datang dari arah berlawanan, menuju dermagamu, dan kau sambut perahu itu, ya lebih indah dari perahuku, dengan tenang tanpa peduli perahuku yang tengah berjuang ditengah lautan. Akhirnya dermagamu dilabuhi oleh perahu lain yang lebih indah, sedangkan perahuku hancur berkeping-keping di lautan, dan akhirnya tenggelam ke dasar lautan.

Mengapa keenggananmu menyulitkanku. Mengapa kepergianmu bersamanya memberatkanku. Untuk menulis kisah awal aku dan kamu sehingga kusebut "kita", menjadi suatu hal yang sangat miris. Mungkin karena kita untukmu telah berpindah haluan bukan lagi aku dan kamu namun kamu dan dia. Kamu pergi dengan dia meninggalkan segala rasa yang sudah terlanjur tumbuh. Awalnya aku tak bisa memilih selain tetap tinggal dengan kenangan. Sambil menulis hal-hal indah yang pernah kau buat. Sampai kapan aku hanya menulis tentangmu? Entahlah

Namun, kini aku merasa sulit untuk mendongeng perihal kamu. Meskipun sedikit saja rasanya. Tetap saja aku belum bisa lagi dengan mudah bercerita. Kurasa hatiku mulai menerima. Menerima kau yang sudah benar-benar hanya mimpi bagiku. Tak lagi dapat kugapai.

Oh iya ku ingat lagi bahwa perahuku sudah hancur karena ombak dan dermagamu telah dilabuhi perahu lain. Pantas saja ada sesuatu yang sulit untuk kutulis karena telah dihancurkan. Sekarang perahuku sudah tak dapat lagi berlabuh. Kuputuskan untuk membiarkan perahu lain yang berlabuh agar dermagamu tak kesepian. Tetap ada yang menyinggahi. Biarkan perahuku ditelan lautan sampai ke segitiga bermuda hingga tua nanti. Karena jika perahuku tetap memaksa berlayar, toh tetap saja perahuku sudah mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Tak akan bertahan sampai tujuan.

Jika suatu saat aku telah sanggup lagi menulis tentang aku juga kamu. Percayalah, itu bukan sebenarnya yang telah terjadi, melainkan mimpiku selama aku berlayar. Tak apa aku tetap suka. Aku tipe orang yang suka berimajinasi juga bermimpi. Imajinasi tetaplah imajinasi. Mimpi tetaplah menjadi mimpi. Kenyataan kamu hanyalah mimpi yang kuimajinasikan. Hari ini aku masih bisa bermimpi kamu. Hari-hari selanjutnya juga aku masih bisa. Tenang saja.