Bagai hati terbelah dua.
Retak. Patah. Hancur berkeping-keping. Aku tak pernah menyangka akan sesakit
ini menyayangi diam-diam. Atau hanya karena aku yang terlalu berharap lebih.
Tak akan kuberharap lebih jika dia tak seperti memberi harap. Nyatanya ada
sedikit harap yang pernah ia berikan, sehingga sakitku hingga seperti ini.
Ada sedikit sesal yang
kurasa. Mengapa dulu aku tak berterus terang kepadanya. Mengungkapkan semua
yang ada dihati, begitu indah namanya terukir sejak setahun lalu. Sebelum ada
seseorang yang berhasil meluluhkan hatinya, yang berhasil diajaknya kencan.
Hanya aku takut berbagai resiko yang kan ku alami setelah dia tahu semua rasa
yang ada. Toh tak ada yang menjanjikan jika aku sudah ungkapkan semua dia akan
benar-benar menjadi milikku. Atau justru dia akan pergi menjauh dan tak
kembali. Aku terlalu takut menyambut resiko-resiko itu.
Kini aku benar-benar
menyesal. Semua sesalku karena andai. Andai nyaliku besar. Andai aku mampu
bicara. Andai aku bisa jujur. Andai hanya andaian kata. Sekarang benar aku tak
dapat berbuat apa lagi. kenyataan yang ada dia sudah memilih wanita yang
menjadi pilihannya. Dia sudah tak anggap aku teman dekat lagi. begitu cepat ia
jatuh hati dengan wanita itu. Sedangkan aku yang menunggunya lebih dari satu
tahun tak sedikitpun ditengok. Aku yakin dia sadar akan rasaku, namun dia saja
yang tak ada rasa. Lalu, apa maksud dari semua sapaan yang kau beri, apa maksud
dari semua tatapan yang pernah kau tujukan untukku, di parkiran sekolah itu
menjadi saksi. Begitu kau seperti memberi harapan. Begitu kau membuatku terbang
tinggi. Hingga harapku setinggi ini padamu. Ku kira semua itu balasan untuk
rasaku, atau hanya aku yang terlalu percaya diri. Entahlah.
Kau pernah menerbangkan
dan kini menjatuhkan secara acuh. Tak memberi salam apapun kau pergi dengan
wanita lain. Tanpa pamit tanpa permisi. Apa kau tahu bagaimana rapuhnya aku?
Sesak sekali dada ini kala mengingat kejadian masa itu. Acuhnya kau
dihadapanku, seperti tak pernah mengenal. Ternyata sedang menunggu wanitamu.
Kau tak sopan tak membalas sapaan. Lebih memilih wanitamu yang baru kau kenal
tak lebih lama dariku.
Kenyataannya kau dan dia
benar akan bersatu. Dia yang selalu ada untukmu. Dia yang lebih cantik
parasnya. Dia yang berhasil meluluhkan dinginnya hati seorang gamers sepertimu.
Aku disini hanya bisa menerima kenyataan yang ada, bahwasanya kau benar-benar
bukan milikku untuk kesekian kalinya. Banyak wanita yang pernah dikabarkan
menjalin hubungan denganmu. Namun aku tetap setia menunggumu. Aku meyakini
bahwa mereka hanya kicauan semata. Aku tetap setia, dulu. Dan sekarang, aku melihat
dengan mata kepala juga mata hatiku sendiri jika kau bersama wanita yang baru.
Sepertinya ini jawaban atas doaku malam itu. Tuhan menjauhkan kita dengan cara
seperti ini. Mengharuskanku pergi dari hidupmu, sepertinya. Menyelamatkanku
dari perihnya menyayangi diam-diam. Membangunkanku dari lamanya menunggu
sesuatu yang tak pasti. Intinya tuhan ingin aku tak berharap lebih tentangmu,
tentang kita.
Berat melepasmu. Sulit
untuk pergi. Sayangku sepertinya sudah tak main-main. Padahal aku tahu jika tak
boleh sesayang ini dengan sesuatu yang belum pasti. Namun aku tetap
menyayangimu lebih. Bagaimana aku bisa melepasmu yang sudah setahun terikat
dihati. Bagaimana aku membiarkanmu pergi dengan wanita lain padahal aku yang
lebih dulu mengenalmu. Menunggumu kembali atau menunggu melupakanmu. Hanya itu
pilihanku sekarang. Namun nyatanya aku tak dapat memilih. Karena sejujurnya aku
akan meminta kau kembali denganku sekarang juga. Meskipun mustahil.
Siap tak siap aku harus
melepasmu dengan wanita pilihanmu. Rasaku tak boleh egois. Cinta tak selamanya
harus memiliki. Jika kau sudah memilih, jika bahagiamu adalah dia. Aku bisa
apa.
“Karena level tertinggi
mencintai adalah merelakan dia bahagia bersama orang lain"
"love is when the
other person's happiness is more important than your own"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar