Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Kamis, 13 Oktober 2016

Seharusnya aku, yang menggenggam tanganmu

Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidak jelasan, tiba-tiba menghilang tanpa sebab. Tepat dua minggu kepergianmu yang meninggalkan banyak debu. Rasanya masih tak percaya jika kau ternyata sudah ada yang punya. Awal jumpa kita masih sangat melekat dalam ingatan. Di pinggir lapangan, di bawah pohon cemara, di pojok parkiran, dan di koridor sekolah. Mereka menjadi saksi dimana kita dipertemukan bukan hanya karena kebetulan. Aku dan kamu bertemu bukan untuk bersatu namun untuk ku merindu.

Aku bertemu denganmu, mengenal sosok dirimu, hingga aku takut kehilanganmu. Tapi... entah mengapa sikapmu tak sama seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Rasamu ingin memiliku tak sebesar rasaku ingin memilikimu. Apakah ada yang salah diantara aku dan kamu? Kamu itu dulu nggak peka apa pura-pura nggak tau. Kodeku sekeras itu pun tak kunjung kau menyadari. Perasa yang bagaimana hatimu itu.

Kamu mungkin belum paham tentang perasaanku karena kamu memang tak pernah memikirkanku. Berdosakah aku jika aku menjatuhkan air mataku karena sosokmu yang mulai menghilang? Aku sudah kehilanganmu, dan kamu sudah pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya siapa aku? Kekasihmu? Bodoh. Menerima balasan chat darimu saja aku sudah bersyukur. Apalagi menjadi milikmu? Ah aku terlalu bermimpi. Aku ‘kan tetap bukan siapa-siapa kamu.

Aku selamanya bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa selamanya. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kau letakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?

Perempuan itu. Jujur, aku sangat iri dengannya. Jelaskan padaku, apa kelebihan dia sehingga kau bisa menyatakan cinta pada dia? Mengapa hatimu bisa jatuh secepat itu padanya? Kamu ‘kan lebih dulu mengenalku. Mengapa kamu tak jatuh hati padaku saja? Aku pasti menangkapnya kok. Tak usah kamu menunggu ditangkap oleh perempuanmu itu.

Aku tak suka kekasihmu itu. Dia mengalihkan senyumanmu. Dia mencuri tatapanmu. Dia menghilangkan sepotong cerita di pojok parkiran. Padahal aku sudah merangkai aksara menjadi cerita sederhana antara kamu dan aku. Yang selalu menyemogakan tertulis atas nama ‘kita’. Namun kini ‘kita’ tak akan pernah nyata. ‘Kita’ akan tetap abadi dalam cerita. Cerita sederhana dalam balutan rindu. Rindu yang hanya aku yang merasa.

Nampaknya melihatmu dengan kekasihmu ‘jalan bareng’ akan menjadi pemandanganku setiap hari, setiap pagi hingga pulang sekolah. Seharusnya itu aku. Seharusnya aku yang menggenggam tanganmu. Seharusnya aku yang membuatmu tertawa. Seharusnya aku yang menjadi satu-satunya alasanmu menunggu di seberang parkiran.

Kenyataannya semua hanya imajinasiku. Harapku terlalu tinggi untuk menjadi yang kau miliki. Aku menangis sejadi-jadinya, sedalam-dalamnya, atas dasar cinta. Kamu tertawa sekeras-kerasnya, sekencang-kencangnya, atas dasar... entah harus kusebut apa. Aku tak pernah mengerti jalan pikiranmu yang terlampau rumit itu. Aku merasa sangat kehilangan, sementara kamu dalam hitungan hari telah menemukan yang baru.

Jam berganti hari, hari berganti minggu, dan semua berputar... tetap berotasi. Aku jalani hidupku, tentu saja tanpa kamu. Kamu lanjutkan hidupmu, tentu saja dengan dia. Tak banyak hal yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskan. Tak ada hal yang mampu kuperjuangkan, selain membiarkanmu pergi dan tak berharap kamu menorehkan luka lagi. Aku hanya berusaha menikmati luka, hingga aku terbiasa dan akan menganggapnya tak ada. Kepergianmu yang tak beralasan, kehilangan yang begitu menyakitkan, telah menjadi candu yang kunikmati sakitnya.

Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.

Namun, semua jauh dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sungguh jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!

Aku pernah mencintai dengan terlalu, membuatnya menjadi segalaku. Namun akhirnya, waktu membuatmu menjadi masa lalu. Wangimu memudar bersama angin musim. Membuat segalamu padam karena rintik hujan.

Menjauhlah. Aku ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak kutemui orang sepertimu.

Dan mulai kusadari, berpura-pura tidak tertarik lagi bertemu denganmu, tak kusangka menjadi sesulit ini

dari pemujamu,
yang tetap menyayangimu dalam diam dan tulisan

Kamis, 13 Oktober 2016 
Parkiran Saba Bercerita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar