Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Selasa, 11 Oktober 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Perkenalan yang Tertunda"


Saba Muscomp vol 5 menjadi saksi, kali pertama aku jumpa dengan sosok dirinya. Saba muscomp atau saba music competition adalah kompetisi band antar sekolah dengan bintang tamu grup band yang kebanyakan beraliran ska. Awalnya aku sama sekali tak berminat dengan acara itu. aku datang hanya untuk melihat mantan kekasihku disana. Ya, hanya untuk menyenangkannya. Mantan kekasihku itu memang sangat menyukai band aliran ska. Dia yang memperkenalkanku dengan musik yang identik dengan moshing, berdansa atau berdanska yang sering dia sebut sebut itu. entahlah.
Aku datang ditemani seorang sahabatku. Salma. Dia memang baik hati, padahal sebelumnya dia tak pernah mengenal acara apa itu. Dia tidak menolak untuk menemaniku hanya sekadar menyenangkan mantan kekasihku. Namun teganya mantan kekasihku itu. Aku sudah berusaha datang untuk dirinya dan namun dia tak mau menemuiku. Dia lebih memilih bersama teman-teman komunitasnya. Yasudahlah namanya juga mantan, tak bisa jadi yang diutamakan. Aku dan Salma memutuskan untuk mencari tempat berlindung dari teriknya matahari di siang hari. Di pinggir lapangan saba, di bawah pohon cemara.
Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki berbadan tidak terlalu jangkung mengenakan kaus berwarna hitam, dengan celana jeans berwarna krem dan sepatu converse hitam datang menghampiri tempat kami berteduh. Rupanya ia tengah mencari tempat untuk berteduh juga. Ia duduk tak jauh dariku dan sahabatku. Ternyata laki-laki itu adalah teman masa kecil Salma. Mereka asyik sekali berbincang-bincang. Sampai aku tak sempat dikenalkan pada laki-laki itu. sebenarnya sedari awal aku sudah memperhatikan laki-laki itu. dari cara ia bicara, bercerita dan berhumor pun aku perhatikan. Aku sengaja tak mengubah posisi dudukku yang sedikit membelakanginya, agar ia tetap tak sadar jika mataku mengarah padanya. Dia sesekali menengok ke arahku, namun seketika ku alihkan pandanganku berpura-pura tidak tahu menahu. Meskipun begitu, sesekali mata ini tetap ku biarkan bertemu dalam tatapan kecil dengannya.
Kurasakan ada yang beda saat dia datang. Hatiku tak karuan. Jantungku berdegup kebih kencang. Ada sesuatu yang menggusarkan hati saat ia pergi. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Secepat ini aku jatuh hati? Pada pria yang sebelumnya belum pernah kutemui. Aku tidak yakin. tetapi tak bisa di pungkiri, ia memang tampan. Meskipun berbaju hitam dengan kulit tubuhnya yang hitam (namun manis) ia tetap menawan.
“Dia siapa? Namanya siapa? Kok kamu kenal?” tanyaku pada Salma setelah kepergian laki-laki itu.
“Rafli namanya. Temanku sewaktu SD hingga SMP. Dia itu saudaranya mantan kekasihku, Rizky itu loh yang pernah kuceritakan padamu”
“Oh....” balasku dengan membulatkan mulut
“Dia kelas apa? Kok aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?” lanjutku
“IPS 5”
“Nama lengkapnya siapa?”
“Aduh siapa ya. Aku lupa nama lengkapnya. Pokoknya ada  A A siapa gitu”
“Yah.. kok lupa sih” jawabku manyun
“Memangnya ada apa? Kamu menyukainya? Wah Marsha ciee...” ledek Salma
“Ih apaan sih. Tidak kok. Aku hanya kagum saja. Dia kecil item tapi manis ya hehe. Eh keceplosan deh”
Dengan sigap ku tutup mulutku setelah menyadari aku sudah mengungkapkan apa yang aku rasakan sedari awal laki-laki itu datang.
“Ciee keceplosan. Bagaimana? Apa mau ku kenalkan kau padanya? Kamu percaya tidak, dia itu tidak pernah pacaran loh sebelumnya”
“Masak sih?”
“Iya beneran. Rafli itu orangnya polos banget, aku dengar katanya dia tidak pernah menyatakan cinta pada seorang perempuan. Dia juga anak gamers seperti sepupunya, Rizky. Hmm aku baper lagi kan”
“Aduh Salma penyakit bapernya kambuh lagi deh.”
“Rafli tidak pernah pacaran? Tidak pernah nembak cewek? Apa iya? Padahal dia tampan dan juga keren. Hmm aku jadi penasaran sama dia” fikirku dalam hati
Hari terus berganti. Seminggu. Dua minggu. Satu bulan. Dua bulan. Aku sudah tak lagi mempunyai hubungan dengan mantan kekasihku. Sudah satu bulan aku dan dia tak pernah berkomunikasi karena dia sudah mempunyai kekasih baru. Akupun sudah benar-benar move on dari mantan kekasihku itu.
Suatu hari aku tiba-tiba teringat dengan sesosok pria di acara muscomp beberapa bulan lalu. Aku kembali penasaran dengan Rafli. Bagaimana dia sebenarnya? Ternyata rasa ingin tahuku berkepanjangan. Aku menceritakan ini kepada Salma, sahabatku. Dia menawarkan pin bbm Rafli padaku. Namun aku menolaknya, dengan alasan “Masak cewek invite duluan sih.” Aku masih gengsi dan terlalu takut memulai perkenalan itu.
Pagi itu aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku tak tahu mengapa aku ingin berangkat pagi. Aku memarkirkan beat hitamku di tempat parkir yang menghadap timur. Dari tempatku berdiri, aku melihat seorang pria mengenakan jaket jamper berwarna biru dongker sedang memarkirkan motornya juga. Rasanya tak asing dengan wajah tersebut. Dan ternyata benar, dia adalah Rafli. Laki-laki di acara muscomp waktu itu. aku senang sekali dapat bertemu dengan dia pagi ini di parkiran sekolah.
‘Kok aku merasa senang sekali ya bertemu dengan dia. Padahal kan aku tidak kenal sama dia. Hanya tau namanya saja. Tapi tadi dia terlihat keren sekali dengan jaketnya.’ ‘Ah apa iya aku menyukainya? Secepat ini? Pada pandangan pertama? Ah sial’
Tanyaku dalam hati yang entah mengapa terus memikirkan laki-laki itu dan memutar ingatan beberapa bulan lalu saat jumpa pertama kami di muscomp. Jatuh cinta katanya butuh proses yang panjang. Tetapi mengapa ini secepat kilat. Ah mungkin ini bukan jatuh cinta. Mungkin ini hanya rasa suka biasa. Namun rasa ingin tahu ku tentang dirinya semakin besar. Aku ingin mengenalnya. Benar-benar mengenal bukan hanya tau nama saja. Aku memutuskan untuk menerima tawaran Salma.
“Salma....” panggilku manja seperti anak TK yang sedang merengek minta mainan
“Iyaaa...” jawab Salma tak kalah manja
“Ih sok imut deh”
“Emang imut”
“Salma apaan sih tidak lucu tau”
“Memangnya siapa yang melawak? Aku kan bukan pelawak” jawabnya santai
“Iya deh terserah kamu. Tapi tetap saja kamu sama aku jelas imut aku. Kan tuaan kamu dari aku wlek.”
“Eitsss jangan bawa umur yaaaa orang cuma beda satu bulan saja kok huu”
“Sudah deh! Aku kesini bukan mau debat masalah umur sama kamu hffff”
“Lalu? Eh bentar dulu! Pasti ini ada maunya. Datang-datang manggil-manggil sok manja gitu”
“Emang! Hehe”
“Ada apa cintaku sayangku manisku manjaku, teman ‘utak-utukku’?”
“Kamu masih punya pin bbm-nya Rafli apa tidak?”
“Masih. Mengapa memangnya?”
“Mau minta dong.....” pintaku dengan wajah memelas
“Katanya kemarin tidak mau. Katanya masak cewek duluan yang invite. Katanya gengsi. Katanya....”
“Sekarang sudah tidak! Aku semakin penasaran. Daripada aku mati penasaran sebelum kenal sama dia lebih baik aku terima saja tawaran kamu kemarin, Ma. Please... boleh ya ya”
“Oh gitu. Gimana yaaa kasih tidak ya”
“Ayolah! Salma kan cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung.”
“Yee kamu memuji kalau ada maunya saja. Nih cari saja sendiri dikontak bbmku” kata Salma yang akhirnya hatinya luluh dan meminjami aku ponselnya.
Aku mengetik nama dia di layar ponsel Salma. R A F . Baru sampai huruf ke tiga ternyata namanya sudah muncul di layar ponsel Salma. Dengan cepat aku membuka profil bbmnya dan mencari pinnya. Hatiku tak karuan. Masih ada sedikit keraguan untuk meng-invite dia. Tapi....
“Ah kelamaan. Sini hpku kalau tidak jadi” suara Salma mengagetkanku yang tengah melamun
“Eh eh iya iya ini juga mau invite kok.”
“Nah gitu kan bagus dari kemarin. Sekarang, tinggal tunggu Rafli acc deh”
“Kok aku jadi deg-degan begini ya, Ma. Nanti kalau aku sudah di invite aku harus bagaimana?”
“Ya kamu chat dia dong. Katanya mau kenal lebih dalam lagi sama dia.”
“Iya sih. Tapi nanti kalau dia tidak meresponku bagaimana? Kalau nanti dia tidak acc pin aku bagaimana? Kalau nanti dia...”
“Sudah deh, Sha. Kamu tuh terlalu banyak berfikiran negatif. Positif thingking saja. Dijalani saja dulu. Dia orangnya baik kok. Aku yakin dia pasti mau kenalan sama kamu”
“Amin... makasih Salmaku cintaku sayangku teman ‘utak-utukku’. Salma memang terbaik muahhh”
Aku memeluk Salma dengan sangat erat. Yang aku peluk nampaknya merasa risih dengan tingkahku ini. Biar saja, karena aku merasa sangat senang sekali bisa dapat dukungan dari sahabatku ini.
2 hari kemudian pada saat aku membuka bbmku, aku menemukan sebuah nama yang nampaknya tak asing bagiku. RAFLI. Aku  senang sekali. Ternyata pinku sudah di acc. Sekarang giliran mentalku yang diuji. Bagaimana caranya memberanikan diri untuk memulai perkenalan dengan seorang lelaki. Jujur aku takut. Namun jika bukan aku yang memulai, aku tidak akan pernah mengenal sosok lelaki itu. Ku kumpulkan semua nyali-nyaliku. Ku kerahkan semua untuk memulai percakapan di obrolan bbm.
“PING!!!”
Tak lama, Rafli membaca chat itu. hatiku sudah tidak menentu. Bagaimana ini? Dia jawab apa? Aku harus balas apa lagi? aku sungguh bingung.
“Iya. Ada apa?” balasan singkat Rafli
“Intro” balasku langsung to the point dengan segala nyali yang tersisa
“Rafli. Kelas 11 Ips 5. Intro back”
Aku memperkenalkan diriku. Obrolan itu berlanjut hingga malam hari. Sifat humorisnya memang benar-benar membuat suasana yang awalnya dingin menjadi lebih hangat dengan candaannya. Aku terhanyut dengan banyolan konyol yang ia ciptakan. Hingga aku tak sempat bertanya lebih banyak mengenai dirinya. Biarlah. Yang penting aku sudah berhasil berkenalan dengan dia. Senang sekali rasanya. Kalau tak ada muscomp waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok laki-laki yang tak terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang membuat penasaran.

Berawal dari tatap
Indah senyummu memikat
Memikat hatiku yang hampa lara

Ya, aku membuatnya hadir dikehidupanku setelah kepergian mantan kekasihku.
Apakah dia sebagai pelarianmu?
Bukan! Sama sekali aku tak berniat seperti itu. Aku sungguh ingin mengenalnya. Menjadi temannya. Namun aku sama sekali tak mencegah hatiku untuk jatuh hati padanya. Pada semua yang aku kagumi tentang dirinya.
Mengapa hatimu bisa jatuh cinta secepat ini?
Tidak! Aku belum benar-benar jatuh cinta padanya. Aku hanya menyukai dan mengagumi paras pun sifatnya.
Bagaimana jika nantinya kau akan jatuh hati padanya?
Biarkanlah. Hati siapa yang tau. Hati tak bisa memilih pada siapa ia akan jatuh.
Bagaimana jika kau jatuh hati sedangkan ia tidak?
Tidak apa-apa. Cinta ‘kan tak harus memiliki. Setidaknya biarlah aku terus mengaguminya dalam diam, meskipun aku tau perasaan ini nantinya tak terbalaskan dan mungkin salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar