Kalau
tak ada muscomp waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok
laki-laki yang tak terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang
membuat penasaran.
Sekarang
aku sudah kenal Rafli. Rafli juga sudah kenal Marsha. Aku berharap dapat
berteman baik dengan dia. Entah kalau aku jadi suka. Semenjak aku bertemu di
Muscomp waktu itu, dan aku sudah kenal dia sekarang, aku jadi sering sekali bertemu
dia di sekolah. Entah itu di kantin waktu istirahat, di musholla waktu sholat
zuhur, di parkiran waktu pulang sekolah ataupun berangkat sekolah. Seolah-olah
aku ditakdirkan kenal dia dulu baru bertemu kemudian. Pasalnya, sebelum aku
kenal Rafli, aku tak pernah tau Rafli teman satu angkatan. Mungkin aku pernah
bertemu, hanya saja aku tak menyadari jika itu Rafli. Sudahlah. Yang penting
kita sudah kenal, meskipun via bbm.
~~~
Hari
ini adalah hari dimana banyak siswa tak terlalu menyukainya. Hari dimana hari
libur mereka dihentikan secara paksa. Hari dimana harus datang ke sekolah lebih
pagi dari biasanya untuk berdiri ditengah lapangan bersama-sama. Namun untuk kali
ini aku tak setuju dengan pendapat mereka. Tapi dulu iya. Besok-besok tidak
tahu lagi. Hari ini hari yang sangat kutunggu untuk mengakhiri hari liburku
yang hanya di rumah. Agar aku dapat kembali ke sekolah untuk bertemu
kawan-kawan dan dia. He he
Hari
ini aku tak tahu mengapa aku semangat sekali datang ke sekolah. Hari-hari
sebelumnya juga semangat, tetapi tak sesemangat Senin kali ini. Saking semangatnya,
aku berangkat lebih pagi dari jam berangkat sekolahku biasanya. Bukan lebih
lagi, sangat. Aku mengendarai sepedaku yang bermesin dengan kecepatan sedang
sambil bernyanyi-nyanyi dan senyum-senyum sendiri. Aku tahu aku sedikit lebay.
Tapi jika kau merasakan hal yang sama sepertiku, kau pasti akan melakukannya. Lima
belas menit kemudian aku telah sampai di gerbang sekolah. Sekolahku mengharuskan
siswanya turun dari kendaraan mereka, untuk menuntunnya sampai gerbang tempat
parkir. Sedari turun dari sepeda bermesinku, aku melihat sosok penampakan. Eh
bukan, sosok lelaki maksudku tengah duduk di atas sepeda motornya sambil
bermain ponsel. Entah miliknya atau pinjam, urusan dia. Sudah kuhafal dia pasti
Rafli. Di pojok parkiran, sendirian. Seperti hari-hari sebelumnya.
Sekolah
masih nampak sepi karena jarum panjang jam belum menunjuk angka 9 dan jarum
pendek menunjuk antara angka 6 dan 7. Syukurlah. Bisa kupastikan tempat parkir
masih banyak yang kosong sehingga aku leluasa memilih. Kuputuskan menempatkan sepeda
motorku tak jauh dari tempat Rafli memarkir kendaraannya. Kumaksudkan agar
pulang sekolah nanti aku dapat melihatnya lagi ditempat yang sama. Pojok
parkiran sekolah.
Usai
kuparkirkan sepeda motorku dengan rapi, aku berjalan menuju kelasku. Aku memilih
lewat jalan sebelah selatan, padahal ada jalan lain disebelah utara yang lebih
dekat untuk menuju kelasku. Tak apa. Aku suka. Karena jalan itu, membuat aku
bisa melihat Rafli jauh lebih dekat. Dengan maksud lain, kalau aku lewat dia
turut mengikuti untuk jalan bersama. He he. Tetapi dia tidak melakukan.
Melihatku pun tidak, apalagi menyapa. Dia masih tertunduk fokus dengan
ponselnya. Aku sedikit kecewa. Tapi kupendam saja. Ada hak apa aku meminta kamu
menyapaku. Tapi kan kita sudah kenal, Raf. Mengapa kamu tak menyapa. Setidaknya
melihatku untuk sekedar tersenyum sedikit saja. Seperti itupun aku sudah
senang. Kamu sebenarnya suka berteman denganku apa tidak. Mengapa sikapmu tak
menunjukkan rasa senang. Aku kecewa, Raf. Semoga besok-besok aku kamu tidak melakukannya
lagi.
~~~
“Salmaaaa!!!!!”
teriakku sesampainya aku dikelas.
Untungnya
dikelas hanya ada Salma yang memang biasa berangkat pagi. Sedangkan kawan-kawan
lain tak ada. Mereka lebih suka berangkat siang. Katanya untuk apa berangkat
pagi kalau sedang tidak ada pr atau tugas. Jadi tidak ada yang mendengar
teriakanku selain Salma. Percaya deh, dia memang pendengar setia. Sampai
kupingnya gatal mungkin.
“Ada apa Marsha?? Berisik!!” Jawab Marsha. “Untung kamu
sahabatku, kalau tidak hmmm”
“Kalau tidak kau mau apa memangnya. Mau tidak
kuantar pulang kau Ma” Kataku sambil menaik-naikkan alisku pertanda menggoda
“Itu pertanyaan?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Ancaman”
“ha ha ha”
“Ada yang lucu?” tanyaku melihat Salma yang
tertawa
“Tidak.”
“Mengapa kau tertawa?”
“Ancaman macam apa itu.” Jawab Salma sambil
menoyor kepalaku. “Sama sekali ku tak merasa kau ancam Marsha.”
“He he he”
“Anak kecil belaga mau mengancam anak gede.
Sudah berani rupanya”
“Siapa bilang aku kecil. Sudah besar kok”
“Mana coba lihat”
“Nih nih lihat” kataku sambil berjinjit agar
nampak tinggi. Namun gagal. Lagi-lagi Salma ketawa.
“Sudah sudah. Jangan sok tinggi kamu. Kalau
kamu kecil ya kecil saja, jodohmu juga sama yang tidak tinggi-tinggi amat.
Kecil juga boleh. Ha ha ha”
“Sebentar kamu bilang apa? Jodohku sama yang
tidak tinggi-tinggi amat? Rafli tidak terlalu tinggi. Berarti kita boleh
berjodoh dong. Asikkkk” tanyaku kegirangan
“Kamu suka sama Rafli beneran, Sha?” Tanya
Salma sedikit serius
“Menurutmu?”
“Anak kecil jatuh cinta nih” ledek Salma
“Belum kok. Tapi tidak tahu kalau
besok-besok”
“Memangnya
mengapa”
Aku
menceritakan semua yang terjadi tadi pagi. Secara runtut mulai aku bangun tidur,
terus sempat buang air pas mandi sampai dibuat kecewa Rafli. Kuceritakan semua.
Nampaknya Salma tak bosan sebagai pendengar. Mungkin karena dia juga hobi
membaca novel.
“Kok aneh ya si
Rafli itu. biasanya, denganku dia tidak begitu. Rafli kalau ketemu aku, dia
selalu nyapa kok senyum juga. Mengapa sama kamu tidak ya padahal sudah kenalan
meskipun belum langsung” kata Salma heran.
“Bagaimana
kalau kamu yang memulai dulu. Mungkin dia malu” tambah Salma
Akupun
berfikir seperti itu. Setelah kejadian tadi pagi, melihat sikap Rafli yang
dingin denganku. Sepertinya aku yang harus memulai. Mungkin benar kata Salma.
Mungkin dia malu. Aku memutuskan untuk mengajaknya bicara nanti sepulang
sekolah.
~~~
Bel
sekolah berbunyi. Murid tidur berdiri. Bukan. Mana bisa. Tapi silakan kalau
mau. Lupakan. Kawan-kawan mengemasi barang-barang. Bergegas keluar ruangan.
Karena sudah suntuk tujuh jam belajar. Ingin segera pulang. Bertemu ibu
tercinta. Kemudian makan siang bersama. Kalau belum.
Niatku
ingin segera pulang kuurungkan untuk menunggu Rafli di parkiran. Dia datang
bersama seorang kawan satu kelasnya. Sampai diparkiran, kawannya izin pulang
duluan, membuat Rafli sendirian dipojok parkiran. Masih sama. Dengan
harap-harap cemas kuhampiri dia yang sedang mengenakan jaket. Dengan suara
pelan kupanggil Rafli
“Raf”
“Iya” toleh Rafli yang baru saja selesai
memakai jaketnya dari atas kepala. Jaketnya jamper. Kau tahulah bagaimana cara
makainya.
“Aku Marsha.”
“Iya
sudah tahu.” Jawabnya sedikit ketus
Aku
merasa sikap Rafli dingin kepadaku. Beda dari Rafli yang pertama kutemui di
acara Muscomp beberapa bulan lalu. Namun dari hati kecilku rasanya senang
sekali bisa melihat Rafli begitu dekat. Ku dapat dari mana nyali ini. Berani
sekali aku mendekatinya. Dia mengulurkan tangan seperti mengajak berjabatan.
Aku masih dengan lamunanku dan tersadar saat Rafli menggoyang-goyangkan
tangannya di depan wajahku.
“Aku
Rafli.”
Dia
mengulangi kalimatnya. Kemudian kembali mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku
membalasnya karena sudah tidak melamun lagi.
“Tanda perkenalan. Biar resmi kita sudah
kenal. Walaupun sudah kenalan di bbm.” kata Rafli.
“Eh iya iya resmi kenalan” kataku sedikit gugup
karena bersalaman dengannya.
“Kamu kok masih disekolah? Tidak pulang?”
Tanya Rafli.
“Ee.. tadi baru selesai mengerjakan tugas
bersama temanku.” Aku sedikit berbohong. Aku tidak mau Rafli tahu kalau aku
pulang terlambat karena menunggunya diparkiran sejak tadi.
“Tidak bareng
Salma?”
“Eee... dia lagi ada
ekskul tadi katanya” jawabku seadanya “kamu sendiri? Kok belum pulang?”
“Iya. Kan lagi
ngobrol sama kamu disini, jadi ya belum boleh pulang”
“Ee.. ee.. maaf
Rafli” kataku menunduk merasa bersalah.
“Ha ha tidak Marsha,
kamu tidak salah kok.” Ujar Rafli. “Lagi aku suka kok ngobrol sama kamu disini”
“Apa?
Kamu bilang apa tadi?
Suara
Rafli begitu pelan nyaris tak dapat kudengar. Mungkin fikirnya. Namun salah.
Nyatanya aku mendengar jelas apa yang dia katakan. Sungguh aku bingung apa
maksudnya? Dia suka ngobrol sama aku? Artinya dia.... Ah sudahlah jangan
berperasangka berlebihan. Tidak baik. Tapi kau tahu, aku merasa senang dengan
ucapan dia tadi.
“Marsha ayo pulang.
Sudah sore. Nanti dicariin om kamu”
“Kok Om?” tanyaku
heran.
“Kalau ibu kamu kan
sudah pasti nyariin. Mungkin om kamu mau nyari kamu juga”
“Ha ha ha” aku
tertawa mendengarnya. “Ya sudah kamu duluan saja. Aku mau mengambil sepeda
motorku dulu disana”
“Tidak. Aku mau
nunggu kamu saja.”
“Suka nunggu?”
“Tidak.”
“Kok mau menunggu
aku?”
“Tidak enak meninggalkan perempuan di
parkiran sendirian, apalagi dipojokan.”
“Ha ha ha.”
“Sana ambil motor. Aku mau nunggu dulu.”
“Nunggu siapa?”
“Tukang bakpau.”
“Mau Beli?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Mau
dengar lagunya”
“Ha ha
ha.”
“Kamu
bolehin aku menunggu tidak?” tanya Rafli. “Kalau tidak, aku mau tidur.”
“Ya
terserah kamu kalau tidak repot.”
“Repot
buat kamu tidak apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Sudah
sana ambil sepeda motor kamu. Kalau sudah gelap, kamu tidak akan berani.”
“Berani
kok. Kan sudah gede”
“Ha ha
ha”
Aku
mengambil sepeda motorku yang tak jauh dari tempat parkir Rafli. Ku percepat
langkahku agar Rafli tidak terlalu lama menunggu. Bergegas memakai helm dan
masker karena rumahku cukup jauh dari sekolah. Banyak debu di jalan apalagi
sore hari. Jamnya pegawai kantoran pulang kerja. Aku menganggukkan kepala
mengisyaratkan siap, setelah selesai dengan segala kerepotanku. Kami keluar
dari sekolah bersamaan. Ku harap tak ada yang melihat kami sejak di pojok
parkiran tadi. Terutama kawanku satu kelas. Kami berpisah setelah keluar dari halaman
sekolah karena arah rumah kami berbeda.
~~~
Ku
lajukan sepeda motor matic kesayanganku dengan kecepatan tinggi, hanya
sebentar. Seolah-olah ingin memberitahu kepada pengendara lain bahwa sang
empunya motor sedang kegirangan. Kukembalikan kecepatan motorku seperti biasa
aku mengendarainya. Pelan-pelan namun pasti sampai rumah. Fikiranku terus ke
Rafli. Aku sedikit heran dengan sikap dia hari ini. Tadi pagi, dia acuh sekali
terhadapku. Padahal ku yakin dia melihatku saat itu. Berubah seratus delapan
puluh derajat sore tadi. Kami mengobrol banyak. Layak teman akrab sudah kenal
sejak lama, padahal baru saja. Karena baru dia resmikan.
Aku
masih tak percaya denganperistiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli
dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi
berkenalan dengan dia katanya. He he
Semoga
ada hari-hari pertama selanjutnya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar