Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Selasa, 20 Desember 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Dari Pojok Parkiran"

Kalau tak ada muscomp waktu itu, tak mungkin aku dapat bertemu dengan dia. Sosok laki-laki yang tak terlalu tinggi, berparas rupawan, bergaya menawan, yang membuat penasaran.
Sekarang aku sudah kenal Rafli. Rafli juga sudah kenal Marsha. Aku berharap dapat berteman baik dengan dia. Entah kalau aku jadi suka. Semenjak aku bertemu di Muscomp waktu itu, dan aku sudah kenal dia sekarang, aku jadi sering sekali bertemu dia di sekolah. Entah itu di kantin waktu istirahat, di musholla waktu sholat zuhur, di parkiran waktu pulang sekolah ataupun berangkat sekolah. Seolah-olah aku ditakdirkan kenal dia dulu baru bertemu kemudian. Pasalnya, sebelum aku kenal Rafli, aku tak pernah tau Rafli teman satu angkatan. Mungkin aku pernah bertemu, hanya saja aku tak menyadari jika itu Rafli. Sudahlah. Yang penting kita sudah kenal, meskipun via bbm.
~~~
Hari ini adalah hari dimana banyak siswa tak terlalu menyukainya. Hari dimana hari libur mereka dihentikan secara paksa. Hari dimana harus datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya untuk berdiri ditengah lapangan bersama-sama. Namun untuk kali ini aku tak setuju dengan pendapat mereka. Tapi dulu iya. Besok-besok tidak tahu lagi. Hari ini hari yang sangat kutunggu untuk mengakhiri hari liburku yang hanya di rumah. Agar aku dapat kembali ke sekolah untuk bertemu kawan-kawan dan dia. He he
Hari ini aku tak tahu mengapa aku semangat sekali datang ke sekolah. Hari-hari sebelumnya juga semangat, tetapi tak sesemangat Senin kali ini. Saking semangatnya, aku berangkat lebih pagi dari jam berangkat sekolahku biasanya. Bukan lebih lagi, sangat. Aku mengendarai sepedaku yang bermesin dengan kecepatan sedang sambil bernyanyi-nyanyi dan senyum-senyum sendiri. Aku tahu aku sedikit lebay. Tapi jika kau merasakan hal yang sama sepertiku, kau pasti akan melakukannya. Lima belas menit kemudian aku telah sampai di gerbang sekolah. Sekolahku mengharuskan siswanya turun dari kendaraan mereka, untuk menuntunnya sampai gerbang tempat parkir. Sedari turun dari sepeda bermesinku, aku melihat sosok penampakan. Eh bukan, sosok lelaki maksudku tengah duduk di atas sepeda motornya sambil bermain ponsel. Entah miliknya atau pinjam, urusan dia. Sudah kuhafal dia pasti Rafli. Di pojok parkiran, sendirian. Seperti hari-hari sebelumnya.
Sekolah masih nampak sepi karena jarum panjang jam belum menunjuk angka 9 dan jarum pendek menunjuk antara angka 6 dan 7. Syukurlah. Bisa kupastikan tempat parkir masih banyak yang kosong sehingga aku leluasa memilih. Kuputuskan menempatkan sepeda motorku tak jauh dari tempat Rafli memarkir kendaraannya. Kumaksudkan agar pulang sekolah nanti aku dapat melihatnya lagi ditempat yang sama. Pojok parkiran sekolah.
Usai kuparkirkan sepeda motorku dengan rapi, aku berjalan menuju kelasku. Aku memilih lewat jalan sebelah selatan, padahal ada jalan lain disebelah utara yang lebih dekat untuk menuju kelasku. Tak apa. Aku suka. Karena jalan itu, membuat aku bisa melihat Rafli jauh lebih dekat. Dengan maksud lain, kalau aku lewat dia turut mengikuti untuk jalan bersama. He he. Tetapi dia tidak melakukan. Melihatku pun tidak, apalagi menyapa. Dia masih tertunduk fokus dengan ponselnya. Aku sedikit kecewa. Tapi kupendam saja. Ada hak apa aku meminta kamu menyapaku. Tapi kan kita sudah kenal, Raf. Mengapa kamu tak menyapa. Setidaknya melihatku untuk sekedar tersenyum sedikit saja. Seperti itupun aku sudah senang. Kamu sebenarnya suka berteman denganku apa tidak. Mengapa sikapmu tak menunjukkan rasa senang. Aku kecewa, Raf. Semoga besok-besok aku kamu tidak melakukannya lagi.
~~~
“Salmaaaa!!!!!” teriakku sesampainya aku dikelas.
Untungnya dikelas hanya ada Salma yang memang biasa berangkat pagi. Sedangkan kawan-kawan lain tak ada. Mereka lebih suka berangkat siang. Katanya untuk apa berangkat pagi kalau sedang tidak ada pr atau tugas. Jadi tidak ada yang mendengar teriakanku selain Salma. Percaya deh, dia memang pendengar setia. Sampai kupingnya gatal mungkin.
“Ada apa Marsha??  Berisik!!” Jawab Marsha. “Untung kamu sahabatku, kalau tidak hmmm”
“Kalau tidak kau mau apa memangnya. Mau tidak kuantar pulang kau Ma” Kataku sambil menaik-naikkan alisku pertanda menggoda
“Itu pertanyaan?”
“Bukan”
“Lalu?”
“Ancaman”
“ha ha ha”
“Ada yang lucu?” tanyaku melihat Salma yang tertawa
“Tidak.”
“Mengapa kau tertawa?”
“Ancaman macam apa itu.” Jawab Salma sambil menoyor kepalaku. “Sama sekali ku tak merasa kau ancam Marsha.”
“He he he”
“Anak kecil belaga mau mengancam anak gede. Sudah berani rupanya”
“Siapa bilang aku kecil. Sudah besar kok”
“Mana coba lihat”
“Nih nih lihat” kataku sambil berjinjit agar nampak tinggi. Namun gagal. Lagi-lagi Salma ketawa.
“Sudah sudah. Jangan sok tinggi kamu. Kalau kamu kecil ya kecil saja, jodohmu juga sama yang tidak tinggi-tinggi amat. Kecil juga boleh. Ha ha ha”
“Sebentar kamu bilang apa? Jodohku sama yang tidak tinggi-tinggi amat? Rafli tidak terlalu tinggi. Berarti kita boleh berjodoh dong. Asikkkk” tanyaku kegirangan
“Kamu suka sama Rafli beneran, Sha?” Tanya Salma sedikit serius
“Menurutmu?”
“Anak kecil jatuh cinta nih” ledek Salma
“Belum kok. Tapi tidak tahu kalau besok-besok”
“Memangnya mengapa”
            Aku menceritakan semua yang terjadi tadi pagi. Secara runtut mulai aku bangun tidur, terus sempat buang air pas mandi sampai dibuat kecewa Rafli. Kuceritakan semua. Nampaknya Salma tak bosan sebagai pendengar. Mungkin karena dia juga hobi membaca novel.
            “Kok aneh ya si Rafli itu. biasanya, denganku dia tidak begitu. Rafli kalau ketemu aku, dia selalu nyapa kok senyum juga. Mengapa sama kamu tidak ya padahal sudah kenalan meskipun belum langsung” kata Salma heran.
            “Bagaimana kalau kamu yang memulai dulu. Mungkin dia malu” tambah Salma
            Akupun berfikir seperti itu. Setelah kejadian tadi pagi, melihat sikap Rafli yang dingin denganku. Sepertinya aku yang harus memulai. Mungkin benar kata Salma. Mungkin dia malu. Aku memutuskan untuk mengajaknya bicara nanti sepulang sekolah.
~~~
Bel sekolah berbunyi. Murid tidur berdiri. Bukan. Mana bisa. Tapi silakan kalau mau. Lupakan. Kawan-kawan mengemasi barang-barang. Bergegas keluar ruangan. Karena sudah suntuk tujuh jam belajar. Ingin segera pulang. Bertemu ibu tercinta. Kemudian makan siang bersama. Kalau belum.
Niatku ingin segera pulang kuurungkan untuk menunggu Rafli di parkiran. Dia datang bersama seorang kawan satu kelasnya. Sampai diparkiran, kawannya izin pulang duluan, membuat Rafli sendirian dipojok parkiran. Masih sama. Dengan harap-harap cemas kuhampiri dia yang sedang mengenakan jaket. Dengan suara pelan kupanggil Rafli
“Raf”
“Iya” toleh Rafli yang baru saja selesai memakai jaketnya dari atas kepala. Jaketnya jamper. Kau tahulah bagaimana cara makainya.
“Aku Marsha.”
“Iya sudah tahu.” Jawabnya sedikit ketus
Aku merasa sikap Rafli dingin kepadaku. Beda dari Rafli yang pertama kutemui di acara Muscomp beberapa bulan lalu. Namun dari hati kecilku rasanya senang sekali bisa melihat Rafli begitu dekat. Ku dapat dari mana nyali ini. Berani sekali aku mendekatinya. Dia mengulurkan tangan seperti mengajak berjabatan. Aku masih dengan lamunanku dan tersadar saat Rafli menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajahku.
“Aku Rafli.”
Dia mengulangi kalimatnya. Kemudian kembali mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku membalasnya karena sudah tidak melamun lagi.
“Tanda perkenalan. Biar resmi kita sudah kenal. Walaupun sudah kenalan di bbm.” kata Rafli.
“Eh iya iya resmi kenalan” kataku sedikit gugup karena bersalaman dengannya.
“Kamu kok masih disekolah? Tidak pulang?” Tanya Rafli.
“Ee.. tadi baru selesai mengerjakan tugas bersama temanku.” Aku sedikit berbohong. Aku tidak mau Rafli tahu kalau aku pulang terlambat karena menunggunya diparkiran sejak tadi.
            “Tidak bareng Salma?”
            “Eee... dia lagi ada ekskul tadi katanya” jawabku seadanya “kamu sendiri? Kok belum pulang?”
            “Iya. Kan lagi ngobrol sama kamu disini, jadi ya belum boleh pulang”
            “Ee.. ee.. maaf Rafli” kataku menunduk merasa bersalah.
            “Ha ha tidak Marsha, kamu tidak salah kok.” Ujar Rafli. “Lagi aku suka kok ngobrol sama kamu disini”
            “Apa? Kamu bilang apa tadi?
            Suara Rafli begitu pelan nyaris tak dapat kudengar. Mungkin fikirnya. Namun salah. Nyatanya aku mendengar jelas apa yang dia katakan. Sungguh aku bingung apa maksudnya? Dia suka ngobrol sama aku? Artinya dia.... Ah sudahlah jangan berperasangka berlebihan. Tidak baik. Tapi kau tahu, aku merasa senang dengan ucapan dia tadi.
            “Marsha ayo pulang. Sudah sore. Nanti dicariin om kamu”
            “Kok Om?” tanyaku heran.
            “Kalau ibu kamu kan sudah pasti nyariin. Mungkin om kamu mau nyari kamu juga”
            “Ha ha ha” aku tertawa mendengarnya. “Ya sudah kamu duluan saja. Aku mau mengambil sepeda motorku dulu disana”
            “Tidak. Aku mau nunggu kamu saja.”
            “Suka nunggu?”
            “Tidak.”
            “Kok mau menunggu aku?”
“Tidak enak meninggalkan perempuan di parkiran sendirian, apalagi dipojokan.”
            “Ha ha ha.”
“Sana ambil motor. Aku mau nunggu dulu.”
“Nunggu siapa?”
“Tukang bakpau.”
“Mau Beli?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Mau dengar lagunya”
“Ha ha ha.”
“Kamu bolehin aku menunggu tidak?” tanya Rafli. “Kalau tidak, aku mau tidur.”
“Ya terserah kamu kalau tidak repot.”
“Repot buat kamu tidak apa-apa.”
“Maksudnya?”
“Sudah sana ambil sepeda motor kamu. Kalau sudah gelap, kamu tidak akan berani.”
“Berani kok. Kan sudah gede”
“Ha ha ha”
            Aku mengambil sepeda motorku yang tak jauh dari tempat parkir Rafli. Ku percepat langkahku agar Rafli tidak terlalu lama menunggu. Bergegas memakai helm dan masker karena rumahku cukup jauh dari sekolah. Banyak debu di jalan apalagi sore hari. Jamnya pegawai kantoran pulang kerja. Aku menganggukkan kepala mengisyaratkan siap, setelah selesai dengan segala kerepotanku. Kami keluar dari sekolah bersamaan. Ku harap tak ada yang melihat kami sejak di pojok parkiran tadi. Terutama kawanku satu kelas. Kami berpisah setelah keluar dari halaman sekolah karena arah rumah kami berbeda.
~~~
            Ku lajukan sepeda motor matic kesayanganku dengan kecepatan tinggi, hanya sebentar. Seolah-olah ingin memberitahu kepada pengendara lain bahwa sang empunya motor sedang kegirangan. Kukembalikan kecepatan motorku seperti biasa aku mengendarainya. Pelan-pelan namun pasti sampai rumah. Fikiranku terus ke Rafli. Aku sedikit heran dengan sikap dia hari ini. Tadi pagi, dia acuh sekali terhadapku. Padahal ku yakin dia melihatku saat itu. Berubah seratus delapan puluh derajat sore tadi. Kami mengobrol banyak. Layak teman akrab sudah kenal sejak lama, padahal baru saja. Karena baru dia resmikan.
Aku masih tak percaya denganperistiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi berkenalan dengan dia katanya. He he

Semoga ada hari-hari pertama selanjutnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar