Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Selasa, 27 Desember 2016

Melodi Cinta Muscomp : "Pemilik Ultramilk"

Aku masih tak percaya dengan peristiwa tadi. Itu adalah hari pertamaku melihat Rafli dengan dekat, hari pertamaku memegang tangannya, dan hari pertamaku resmi berkenalan dengan dia katanya. He he
Semoga ada hari-hari pertama selanjutnya....
~~~
Matahari perlahan turun, bulan bergantian naik-naik ke puncak langit bukan gunung. Bintang-bintang berjajar membentuk rasi yang bermacam-macam. Malam ini langit begitu indah dengan taburan meses dipermukaannya. Bukan, itu bintang. Malam ini begitu indah. Ditambah dengan ponselku yang ramai dengan pesan-pesan singkat dari Rafli. Malam ini aku yang memulai obrolan via bbm. Aku heran, nyaliku besar juga. Aku yang orangnya tidak suka menunggu jadi suka menunggu, menunggu balasan pesan singkat dari Rafli. Hanya itu hal menunggu yang kusuka. Tidak pernah ada obrolan serius malam itu. Semua penuh dengan canda karena memang sifat Rafli yang humoris. Setiap kali aku ingin bertanya perihal kehidupan pribadinya, selalu kuurungkan. Aku khawatir jika obrolan itu kualihkan akan merusak suasana yang membuat Rafli jadi tidak nyaman. Padahal aku ingin sekali mengenal dia lebih jauh. Tapi jangan kejauhan nanti tersesat kerumah orang.
Ditengah-tengah chat via bbmku dengan Rafli, tiba-tiba Rafli mengirim sebuah gambar. Gambar itu adalah sebuah acara berita ditelevisi yang difoto. Mungkin Rafli yang melakukan atau siapa aku tidak sempat bertanya. Rafli mengirim gambar itu dengan disertai tulisan “Marsha, tahu tidak ada anak yang bernama D?”.
“Memang ada? Aku tidak tahu Rafli.” Balasku.
“Iya ada tadi waktu aku melihat berita di tv. Aneh ya.” Jawab Rafli “Besok kalau kamu punya anak, mau kau beri nama siapa?”
“Belum tahu. Tak pernah berfikir sampai segitu.”
“Kalau aku punya anak nanti, mau kuberi nama Cecep.”
“Hahaha. Kenapa?” kutanya Rafli
“Kamu tahu sinetron Cecep yang diperankan Anjasmara dulu?” Tanya Rafli. “Tapi aku lupa judulnya apa soalnya sudah lama”
“Iya aku ingat Rafli. Oh anak kamu, kamu beri nama Cecep biar tampan seperti Anjasmara?”
“Bukan. Biar dia punya teman Alien dan bisa naik pesawat Ufo”
Aku tertawa membaca balasan dari Rafli. Aku suka suasana seperti ini. Selalu ada hal-hal yang dia buat lelucon. Meskipun terkadang garing semacam jamur crispy yang biasa Salma bawa kesekolah. Tetapi tetap kusuka.
Tiba-tiba ada pesan masuk di grup bbm. Rupanya dari grup Marching Band yang mengabarkan bahwa besok sepulang sekolah ada latihan untuk persiapan mengiringi upacara HUT PGRI. Ternyata tak hanya mengiri upacara, kami juga harus memberi persembahan di depan bupati dan para tamu undangan setelah upacara selesai dengan beberapa lagu andalan tim Marching Band Sabaku. Begitu biasa disebut. Sebuah kebanggan tersendiri dapat menjadi bagian dari tim Marching Band Sabaku. Aku telah bergabung sejak awal masuk SMA. Entah mengapa ekstrakulikuler ini yang kupilih. Intinya banyak pengalaman yang kudapat disini.
“PING!!! PING!!! PING!!!”
Tiga kali tulisan PING!!! khas bbm kulihat muncul di notif ponselku. Ku pikir siapa ternyata Rafli.
“Iya Rafli ada apa?”
“Kemana saja? Lama sekali balasnya.”
“Maaf tadi baru baca pengumuman di grup MBS.”
“Ada apa memang?” tanya Rafli yang mungkin agar tidak tersesat karena malu bertanya itu sesat dijalan.
“Oh itu besok ada latihan untuk persiapan upacara HUT PGRI di Kabupaten.” Jawabku dengan jujur karena bohong itu dosa.
“Jam berapa?”
“Pulang sekolah. Biasa mulai sih jam 3.”
“Ya sudah tidur yuk. Sudah larut.”
“Yuk. Btw, ucapin mau tidak?” aku sedikit menggoda Rafli
“Maksudnya?”
“Selamat malam, Rafli.”
Untuk pertama kalinya, ucapan itu untuk Rafli. Semoga saja Rafli tidak berpikir sampai kemana-mana takut nyasar. Aku tak berharap banyak Rafli akan membalas ucapanku tersebut. Setidaknya aku sudah senang mengucapkannya meskipun awalnya ragu. Namun ternyata...
“Selamat malam juga, Marsha. Mimpi indah.”
Rafli membalasnya dengan sangat indah. Untuk kamu yang sedang menyukai seseorang dan dia melakukan itu padamu, aku dapat menjamin perasaanmu sedang aku rasakan sekarang. Maklumilah untuk orang yang sedang jatuh cinta. Akhirnya aku tak membalas lagi obrolan itu. Biarlah dia kira aku sudah terbang ke alam mimpi padahal belum. Aku memang terbang, terbang karena ucapanmu, Raf. Mimpiku pasti indah malam ini.
~~~
Pagiku indah hari ini serasa ada semangat baru untuk memintaku datang lebih awal kesekolah. Kukendarai honda beat hitam ku sampai sekolah. Nampaknya beat hitamku tetap menginginkan singgasana yang sama. Tetapi tak kujumpai motor matic merah yang tak bisa kusebut mereknya disana. Sepertinya sang pengendara belum sampai, atau memang aku yang terlalu pagi. Hff kutarik nafas panjangku mencoba menikmati udara pagi di tempat ini, pinggir lapangan hijau sekolah.
~~~
Tidak terasa tujuh setengah jam kulalui dengan setumpukan buku-buku beserta masing-masing guru pengampu yang telaten memberi ilmu-ilmu kepada muridnya yang tak pernah jemu untuk menjadi sukses di masa depan sebagai generasi penerus bangsa. Lagu “Terimakasih Guruku” berkumandang begitu lantang mewakili perasaan pendengarnya yang ingin cepat pulang karena lapar mungkin.
Kemudian aku keluar kelas dan segera menuju kamar mandi. Hendak ganti baju untuk latihan marching band sore ini. Usai ganti baju aku menuju singgasana beat hitamku menunggu untuk menitipkan seragamku kepadanya. Aku terkejut tapi sedikit saat mendapati seseorang duduk diatas penungguku. Maksudku sepeda motor beat hitamku.
“Hey kamu mengapa ada disini?” tanyaku kepada penunggu itu.
“Menunggu tempat parkir ini sepi.” Jawabnya
“Harus ya duduk diatas motorku? Motormu mana?” tanyaku sedikit seperti marah padahal tidak
“Aku tidak punya motor.” Jawabnya santai.
“Lalu kau berangkat sekolah naik apa?”
“Mengendarai kuda supaya baik jalannya”
“Hahaha. Serius?”
“Tidak punya kuda aku mah.”
“Terus tadi katanya.”
“Itu menyanyi saja”
“Hahaha”
“Padahal sudah kubayangkan ada siswa berangkat sekolah naik kuda.”
“Gimana bayanginnya?”
“Ya bayangkan saja.”
“Jangan bayangkan kuda. Bayangkan aku saja. Tampanan aku dari kuda kok.”
“Hahaha.”
“Hey katanya kamu ada latihan marching sore ini? Kok disini?” tanya seseorang yang sedari tadi telah bicara denganku.
Ya, dia Rafli yang sepertinya sengaja menungguku atau aku yang terlalu berharap. Aku tak tahu. Biarkan aku senang berkhayal.
“Iya, mau naruh ini di motor.” Kujawab sambil memperlihatkan tas yang kutenteng yang berisi seragam.
“Oh iya, tadi aku beli susu ultramilk. Niatnya sih beli 1, berhubung di kantin tidak ada kembalian, ya sudah kembaliannya aku belikan minum lagi. Terus ‘kan tidak mungkin aku minum keduanya, bisa kembung perut aku. Ini yang satu buat kamu saja. Sekalian biar kamu cepat gede, harus minum susu. Hahaha” Kata Rafli panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume sambil memberikan minum itu kepadaku.
“Ini benar buat aku? Ahh kamu tahu saja aku lagi haus. Susu ultramilk lagi. Kau tahu tidak, ini minuman kesukaan aku. Kalau tidak tahu, baru saja kau ku kasih tahu. Hehe terimakasih Rafli” Jawabku sumringah kemudian meminum minuman dari Rafli.
“Alhamdulillah kalau kamu menyukainya.”
“Eh tapi ini dingin ya.”
“Iya. Kamu tidak suka dingin?”
“Aku suka. Tapi tidak boleh sama pelatihku. Katanya sebelum latihan atau selama latihan jangan minum minuman yang dingin.”
“Kok gitu?”
“Iya katanya gak bagus buat tenggorokan soalnya aku pegang alat tiup dan meniup harus pakai tenggorokan maupun kerongkongan, kan. Tapi tidak apa-apa deh. Sekali ini saja bandel hahaha.”
“Oh gitu eh maaf deh tidak tahu aku,”
“Tidak apa-apa Rafli. Ini juga sudah tidak terlalu dingin kok.” Jawabku. “Tenang saja.”
Kamu tahu selama aku meminum susu ultramilk pemberian Rafli, aku tak berhenti dari bahagia yang sedang kurasa. Seperti aku mimpi padahal tidak. Itu susu ultramilk pertama dari Rafli. Semoga ada untuk selanjutnya...
10 menit yang lalu aku dapat pesan dari teman yang biasa berangkat latihan Marching Band bersamaku, Dinda. Dia memintaku untuk menunggunya di parkiran sekolah karena dia sedang ada urusan diluar sekolah. Akhirnya aku di tempat parkir ini –lagi- berdua saja bersama Rafli. Suasananya hening. Diantara kami tak ada yang memulai percakapan. Aku pun takut dan salah tingkah disini.
“Marsha, kamu di Marching Band pegang alat tiup apa?” Rafli bertanya seperti memecah keheningan diantara kami.
“Aku pegang terumpet.” Jawabku
“Tidak capek apa niup terus begitu?” nampaknya Rafli mulai serius.
“Ya bagaimana ya. Capek pasti ya ada. Apalagi jika bermain parade. Harus berjalan kaki terus sambil meniup terumpet bermain banyak lagu. Tapi kalau sudah suka, secapek apapun ya tetap asik. Dijalani saja”
“Oo begitu. Btw, besok kamu upacaranya dimana? jam berapa? Selesai jam berapa?”
“Belum tahu dimananya. Kalau tidak di alun-alun ya di pendopo kabupaten. Mulainya ya seperti upacara pada umumnya. Kembali ke sekolah biasanya jam 9 atau 10” Jelasku panjang lebar. “Eh itu Dinda sudah kembali. Rafli, aku mau latihan dulu ya. Mau pulang apa masih disini menunggu tukang bakpau?”
“Hahaha. Mau disini tapi bukan menunggu tukang bakpau?”
“Menunggu siapa lagi?”
“Menunggu yang lagi latihan”
Aku diam mendengar perkataan Rafli. Namun sekejap dibuyarkan dengan suara tertawanya.
“Hahahaha. Aku mau pulang Marsha. Semangat latihan ya.”
“Hehe terimakasih. Hati-hati pulangnya, Raf.”
Aku berlalu dari Rafli kemudian menuju tempat dimana aku biasa latihan Marching Band. Yang pasti kali ini bukan tempat parkir. Aku masih terbayang dengan apa yang Rafli katakan. Aku senang Rafli jika kamu seperti itu seterusnya kepadaku.
~~~
Jarum jam menunjukkan pukul lima. Latihan usai dan aku segera pulang. Saat sampai di tempat motorku parkir, ku dapati ada susu ultramilk diatas motorku.

“Ini kan ultramilknya Rafli. Jadi, tadi dia tidak meminum ultramilknya karena akan diberikan kepadaku lagi. Terimakasih Rafli untuk susu ultramilk yang kedua kali. Kau hilangkan lagi rasa hausku disenja ini, beserta capeknya” Gumamku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar