Sebenarnya aku ingin menulis lagi tentangmu. Berkisah lagi.
Melanjutkan cerita yang menurutku belum benar-benar usai. Mungkin, bagimu
sudah. Aku ingin mendongeng lagi. Namun entah mengapa ada hal mengganjal
seperti berniat ingin menyulitkan tangan mengetik. Fikiran berkutik. Hati berbisik.
Padahal perasaan masih berfungsi baik.
Apa gerangan dengan kita? Eh masihkah boleh aku
menyebut kita untuk aku dan kamu? Maaf jika tidak. Aku hanya masih bermimpi akan
itu. Maaf jika lancang.
Sungguh aku ingin menulis untuk mengenang kamu yang
pernah mengetik pesan singkat untukku. Sungguh ingin ku abadikan jika
perasaanku ingin berlabuh di dermagamu. Meskipun banyak ombak menerjang
perahuku yang tengah berlayar. Sebelum benar-benar berlabuh dengan tenang di
dermagamu. Perahuku tak kuat menahan tingginya ombak yang terus menerus melawan.
Hingga perahu lain datang dari arah berlawanan, menuju dermagamu, dan kau
sambut perahu itu, ya lebih indah dari perahuku, dengan tenang tanpa peduli
perahuku yang tengah berjuang ditengah lautan. Akhirnya dermagamu dilabuhi oleh
perahu lain yang lebih indah, sedangkan perahuku hancur berkeping-keping di
lautan, dan akhirnya tenggelam ke dasar lautan.
Mengapa keenggananmu menyulitkanku. Mengapa kepergianmu
bersamanya memberatkanku. Untuk menulis kisah awal aku dan kamu sehingga
kusebut "kita", menjadi suatu hal yang sangat
miris. Mungkin karena kita untukmu telah berpindah haluan bukan lagi aku dan
kamu namun kamu dan dia. Kamu pergi dengan dia meninggalkan segala rasa yang
sudah terlanjur tumbuh. Awalnya aku tak bisa memilih selain tetap tinggal
dengan kenangan. Sambil menulis hal-hal indah yang pernah kau buat. Sampai
kapan aku hanya menulis tentangmu? Entahlah
Namun, kini aku merasa sulit untuk mendongeng perihal
kamu. Meskipun sedikit saja rasanya. Tetap saja aku belum bisa lagi dengan
mudah bercerita. Kurasa hatiku mulai menerima. Menerima kau yang sudah
benar-benar hanya mimpi bagiku. Tak lagi dapat kugapai.
Oh iya ku ingat lagi bahwa perahuku sudah hancur
karena ombak dan dermagamu telah dilabuhi perahu lain. Pantas saja ada sesuatu
yang sulit untuk kutulis karena telah dihancurkan. Sekarang perahuku sudah tak dapat lagi berlabuh. Kuputuskan untuk
membiarkan perahu lain yang berlabuh agar dermagamu tak kesepian. Tetap ada
yang menyinggahi. Biarkan perahuku ditelan lautan sampai ke segitiga bermuda
hingga tua nanti. Karena jika perahuku tetap memaksa berlayar, toh tetap saja
perahuku sudah mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Tak akan bertahan sampai tujuan.
Jika suatu saat aku telah sanggup lagi menulis tentang
aku juga kamu. Percayalah, itu bukan sebenarnya yang telah terjadi, melainkan
mimpiku selama aku berlayar. Tak apa aku tetap suka. Aku tipe orang yang suka
berimajinasi juga bermimpi. Imajinasi tetaplah imajinasi. Mimpi tetaplah
menjadi mimpi. Kenyataan kamu hanyalah mimpi yang kuimajinasikan. Hari ini aku
masih bisa bermimpi kamu. Hari-hari selanjutnya juga aku masih bisa. Tenang
saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar