Blogger Widgets
X-Steel - Wait Wavy Tail

Minggu, 18 Desember 2016

Dermagamu telah dilabuhi hingga bagiku kau hanyalah mimpi

Sebenarnya aku ingin menulis lagi tentangmu. Berkisah lagi. Melanjutkan cerita yang menurutku belum benar-benar usai. Mungkin, bagimu sudah. Aku ingin mendongeng lagi. Namun entah mengapa ada hal mengganjal seperti berniat ingin menyulitkan tangan mengetik. Fikiran berkutik. Hati berbisik. Padahal perasaan masih berfungsi baik.

Apa gerangan dengan kita? Eh masihkah boleh aku menyebut kita untuk aku dan kamu? Maaf jika tidak. Aku hanya masih bermimpi akan itu. Maaf jika lancang.

Sungguh aku ingin menulis untuk mengenang kamu yang pernah mengetik pesan singkat untukku. Sungguh ingin ku abadikan jika perasaanku ingin berlabuh di dermagamu. Meskipun banyak ombak menerjang perahuku yang tengah berlayar. Sebelum benar-benar berlabuh dengan tenang di dermagamu. Perahuku tak kuat menahan tingginya ombak yang terus menerus melawan. Hingga perahu lain datang dari arah berlawanan, menuju dermagamu, dan kau sambut perahu itu, ya lebih indah dari perahuku, dengan tenang tanpa peduli perahuku yang tengah berjuang ditengah lautan. Akhirnya dermagamu dilabuhi oleh perahu lain yang lebih indah, sedangkan perahuku hancur berkeping-keping di lautan, dan akhirnya tenggelam ke dasar lautan.

Mengapa keenggananmu menyulitkanku. Mengapa kepergianmu bersamanya memberatkanku. Untuk menulis kisah awal aku dan kamu sehingga kusebut "kita", menjadi suatu hal yang sangat miris. Mungkin karena kita untukmu telah berpindah haluan bukan lagi aku dan kamu namun kamu dan dia. Kamu pergi dengan dia meninggalkan segala rasa yang sudah terlanjur tumbuh. Awalnya aku tak bisa memilih selain tetap tinggal dengan kenangan. Sambil menulis hal-hal indah yang pernah kau buat. Sampai kapan aku hanya menulis tentangmu? Entahlah

Namun, kini aku merasa sulit untuk mendongeng perihal kamu. Meskipun sedikit saja rasanya. Tetap saja aku belum bisa lagi dengan mudah bercerita. Kurasa hatiku mulai menerima. Menerima kau yang sudah benar-benar hanya mimpi bagiku. Tak lagi dapat kugapai.

Oh iya ku ingat lagi bahwa perahuku sudah hancur karena ombak dan dermagamu telah dilabuhi perahu lain. Pantas saja ada sesuatu yang sulit untuk kutulis karena telah dihancurkan. Sekarang perahuku sudah tak dapat lagi berlabuh. Kuputuskan untuk membiarkan perahu lain yang berlabuh agar dermagamu tak kesepian. Tetap ada yang menyinggahi. Biarkan perahuku ditelan lautan sampai ke segitiga bermuda hingga tua nanti. Karena jika perahuku tetap memaksa berlayar, toh tetap saja perahuku sudah mengalami kerusakan sedikit demi sedikit. Tak akan bertahan sampai tujuan.

Jika suatu saat aku telah sanggup lagi menulis tentang aku juga kamu. Percayalah, itu bukan sebenarnya yang telah terjadi, melainkan mimpiku selama aku berlayar. Tak apa aku tetap suka. Aku tipe orang yang suka berimajinasi juga bermimpi. Imajinasi tetaplah imajinasi. Mimpi tetaplah menjadi mimpi. Kenyataan kamu hanyalah mimpi yang kuimajinasikan. Hari ini aku masih bisa bermimpi kamu. Hari-hari selanjutnya juga aku masih bisa. Tenang saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar